Sabtu, 05 Maret 2022

"You are Completely Beautiful"

Halo, teman-teman semua!!
Selamat malam minggu, ya hihihiii. Cung ngacung siapa yang malem minggunya rebahan sambil nonton serial favorit, atau bantuin ibu di dapur alias malah gangguin πŸ˜† Itu aaaaakuuuuu hahahaha

Oke, jadi hari ini masih dalam rangka nge-up tulisan-tulisan lama dan kebetulan tulisan yang satu ini adalah lanjutan dari postingan sebelumnya. Jadi, buat yang baru gabung untuk membaca Pena Azri hari ini, amat sangat diwajibkan, ga deng, maksudnya amat sangat dipersilakan untuk mampir ke tulisan-tulisan sebelumnya yaaaang insyaAllah bakal nge-boost self-love kamu 😁

Tapi, mau disclaimer dulu nih. Self-love itu bukan berarti kepedean ya, beda Gengs. Self-love itu adalah bagaimana kita mencoba untuk respek dan menerima diri kita apa adanya (bukan kayak dia yang nerima kita ada apanya wkwkwk), memaafkan segala kekurangan diri dan intinya, "stay being you."

Jadi gini, cuitan hari ini masih nyambung sama tulisan sebelumnya ya, soal cantik. Bedanya, kita mau lebih dalemin lagi soal subjective perception about beauty

Kita kan sering banget nih ngomong, "Ih cantik banget sih kamu, cantik banget sih dia, maasyaa Allah banget itu si A cantiknya bukan main!" and bla bla bla, terus emangnya cantik itu sendiri apa sih? (Coba diinget-inget lagi tulisan aku sebelumnya wkwkwk) Atau kalian punya versi sendiri untuk mendefinisikan kata "cantik"?

Sama seperti yang aku pernah bilang sebelumnyaaaa, lebih banyak dari kita yang mendefiniskan cantik sebagai tampilan luar (fisikal), hmm aku nggak bilang semua dari kita ngomong gini lho ya, tapi sebagian besar juga menganggap cantik itu kalau sedap dipandang mata (kok kayaknya agak gimana gitu yaaaa kalimat ini 😝). Cuma kalau dipikir-pikir, definisi cantik yang dilihat dari fisik kayaknya sulit untuk dihindari. Cantik atau cakep buat perempuan tuh pasti dilihat dari kulit putih, mulus ga ada jerawat-jerawat, pori-pori kecil, mata bulat sempurna (anime kali ini mah aih), hidung mancung, alis tebel, lesung pipit kayak Afgan (demi, dari semua ciri-ciri ini bukan gue banget yassalam wkwkwk), belum lagi ditambah tubuh tinggi nan langsing, kaki panjang sempurna, jadi langsung pengen ngomong, "Nikmat-Mu yang mana lagi kah yang dapat kudustakan?" Eh, eh, tapi pasti ada yang bakal berbantah-bantahan sih, kayak ada yang menyanggah, "Eh nggak harus kulit putih kok, si A yang kulitnya eksotis menurut gue cantik, si B yang badannya mungil imut-imut cantik gitu," and other comments yes. Nah, nah, udah lihat sendiri kan, setiap orang punya beda-beda pendapat soal cantik, kalau cuma dilihat sebatas fisik? Jadi, cantik itu sebenarnya relatif atau subjektif?


Kalau kata David Hume, "Beauty is a quality in things themselves, it exists merely in the mind which contemplates them." Setuju banget siiih, berarti cantik itu subjektif, because each mind perceives a different beauty. Beauty is neutral in itself, tapi jadi memiliki "nilai" atau mungkin lebih tepatnya "standarisasi" ketika setiap orang berupaya memaknai itu. Kayak tadi yang aku contohin, ada yang bilang kulit putih cantik, ada yang bilang kulit eksotis atau gelap justru cantik (atau perpaduan keduanya, dan berbagai penilaian lainnya). Nah, ini kelihatan banget kan, kalau setiap orang itu mempersepsi "cantik" in different ways? Tapi pertanyaan lebih lanjutnya, apa sih, yang sebenarnya membuat orang itu fokus pada cantik fisik, apalagi yang memenuhi kriteria seperti yang aku sebutkan di atas? Coba kita flashback dikit, ingat-ingat kalau kamu lagi di rumah, terus nonton program TV eh ada iklan lewat, trus iklannya mempromosikan facial foam, sabun mandi, atau light cream deh, pasti yang mengiklankan (rata-rata) cewek-cewek kulit putih, mulus, badan langsing, iya kan? Dan lebih mirisnya nih wkwkwk ya Allah astagfirullah maap, banyak orang yang buru-buru beli produk yang diiklankan itu dengan tujuan biar kayak cewek-cewek yang ngiklanin itu. Gengs, seharusnya kita refleksi dikit, bukan karena produk-produk itu yang bikin mereka cantik, tapi karena mereka udah cantik makanya mereka disuruh ngiklanin :( Advertisement is a kind of propaganda, iklan ini ditampilkan terus-menerus di TV dan membuat kita jadi berjarak sama realita kita sendiri, ini yang disebut Jean Baudillard, seorang filsuf kontemporer, sebagai simulakrum, artinya simulasi yang diulang-ulang secara terus-menerus agar kita terbawa masuk ke dalamnya, dan ini permainan kapitalis sesungguhnya (ya Allah kok gue jadi ngomongin ginian sih wkwkwk. Ini maksudnya selingan bermanfaat aja ya gengs, biar ga dibohongin iklanπŸ˜”). Kalian boleh percaya hal ini dan boleh dengan mosi tidak percaya, itu juga tidak masalah, namun bukan berarti aku menyuruh kalian untuk ga merawat diri ya, hanya maksudnya sewajarnya aja, jangan dengan motivasi yang tidak realistis seperti itu untuk membeli produk iklannya. Tetap harus wise ya!

Nah, jadi maksudnya apa sih aku ngomong panjang x lebar soal hal-hal barusan dan hubungannya sama "You are Completely beautiful"? 

Jadi gini, Gengs, aku cerita dikit dulu ya wkwkwk. Aku tuh orangnya minderan banget, sering banget ngomong kalo diri aku nggak cantik, aku sering banget protes, kok aku pendek ya, item ya, gendut, hidung minimalis (rumah kali minimalis wkwkwk), mata kecil, betis kayak atlet (asli, sebenernya nggak ada yang salah dengan ini, hanya salah di mata masyarakat, eh*), dan lainnya. Sampe akhirnya aku ambis banget buat jadi cantik, tanya dah sama Bella (sahabat gue wkwk), pertama alasannya biar orang-orang (cewek dan cowok maksudnya nih) suka sama aku. Tapi suatu hari, aku down gara-gara aku ngerasa kok aku udah berusaha cantik, berusaha jadi baik ke semua orang, aku tetap aja dibuang? (Demi Allah kenapa gue mikir gini ya). Satu yang aku lupa. Aku salah niat, Gengs, dan aku juga salah langkah. Niat aku hanyalah karena dunia, karena manusia, makanya kecewa kan? Aku pengen diriku disukai oleh orang lain, tanpa menjadi diriku sendiri (pengen cantiklah, segala macem). Langkahnya juga salah, cantik aku reduksi sesempit itu, hanya berdasarkan fisik yang tadi aku sebutkan. Aku nggak menyalahkan kalian yang mungkin memandang cantik itu termasuk fisik juga, tapi aku pengen memperluas pengertian bahwa sekali lagi, cantik itu luas banget. Dan setiap orang punya penilaian yang berbeda-beda. Rasanya nggak lengkap kalau semua hal kita "lihat" dari yang "tampak" di mata aja, kita lupa bahwa kita punya satu lagi penglihatan yang istimewa dan jujur, yakni hati. 

Kita punya hati yang bisa ngelihat dengan tulus. Mungkin orang bilang, lebay ah, cantik di hati, ga usah sok sok muna deh. Ya Allah, istigfar, Tong. Coba deh, direnungi lagi, fisik itu digerus waktu, tapi batin yang bersih, akan selalu ada sampai nanti. Kita susah bahagia karena kita selalu melihat pakai mata, bukan pakai hati, yang artinya kita kurang untuk melihat hal-hal yang justru lebih dalam dari apa yang ditangkap mata. Maksudku, kita kurang bersyukur, kita kurang menyayangi diri kita sendiri. Aku juga sadar, dengan aku ngeluh-ngeluh, "kok gue gini ya? Kok gue gitu ya?" Berarti aku menghakimi diriku sendiri, padahal nggak pantas kayak gitu :((( 

Seandainya pengertian cantik nggak direduksi sebatas fisik, aku yakin banget, semua perempuan itu cantik. Bukankah juga sebagai seorang Muslim kita sudah tahu bahwa kecantikkan itu dari akhlak? Oke, mungkin bakal ada yang menyanggah, "Tapi kan manusiawi, Zri, kalo lihat dari fisik, namanya juga manusia, lo pasti gitu juga kan, Zri?" Iya bener, Tong, bener. Bener banget. Udah kodrat manusia melihat sesuatu dari fisiknya dahulu, aku juga nggak menyangkal hal itu, kok. Akan tetapi, segala sesuatu itu nggak cuma sebatas fisik. Kalau semua karena rupa, gimana kamu bisa mencintai Tuhan yang nggak ber-rupa?

Dengan menulis ini, bukan maksud mau menyalahkan siap-siapa atau sok-sok berkata paling benar, ya, enggak kok. Aku cuma suka sedih sama kamu-kamu yang suka bilang, "Kok gue ga cantik, ya?" (padahal gue juga suka ngomong gini, ya ini makanya biar ga ngomong gini lagi, pengen buka perspektif baru buat diri). Hei, mungkin kita lupa bersyukur. Kalau kata Martin Heidegger, kita itu hidup karena "keterlemparan", yaudah, terimalah "keterlemparan" itu. Apa yang udah diberikan, disyukuri. Kalau alasannya karena takut ngga ada orang yang mau terima, tetap jangan berusaha jadi orang lain biar bisa diterima (maksudnya berubah dalam tanda kutip nih, paham kan?). Kalau belum ada, semisal, seseorang yang belum bisa nerima karena fisik kita, berarti dia bukan orang yang tepat buat kita. Akan ada kok, suatu hari, aku yakin, orang yang bakal menerima kita apa adanya, seberapa pun kekurangan kita, pun akan ada orang yang kita terima untuk ada di hidup kita. Hidup nggak asik banget loh kalo cuma dilihat berdasarkan hal-hal fisik. Sempit banget jadinya dunia ini. Maaf aku bukan kaum lingkaran Wina, yang rejecting metafisika, jadi aku tetap terima beyond the mind, soalnya hidup kita nggak lengkap kalo empirik2 aja :((

Jadi, intinya sih, syukuri dan cintai diri sendiri ya. Karena kunci kebahagiaan itu kamu yang punya atas dirimu. Aku yakin, kita semua bisa bahagia kalau mau menerima :)


Thank you buat semua yang udah baca Pena Azri hari ini, ya!

Thank you for your support, aku jadi semakin semangat nulis karena selalu ada yang baca πŸ˜­πŸ’œ

Dan, kalau kalian punya pertanyaan, kritik dan saran, plus yang mau request tulisan, silakan kirim komentar atau boleh langsung e-mail ke azridhanty@gmail.com yaaa

Tapi harap bersabar, karena ngantri ya, satu-satu, adminnya baru satu soalnya wkwkwk

Okay, see you, Guys!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Malam

Ada semburat rindu, yang ingin kuterbangkan. Menitipkan sedikit hembusan pelan pada angin yang berhembus lembut, pada ranting-ranting yang...