Sabtu, 20 Agustus 2022

Malam

Ada semburat rindu, yang ingin kuterbangkan.
Menitipkan sedikit hembusan pelan pada angin yang berhembus lembut,
pada ranting-ranting yang bergemerisik lirih,
pada daun-daun kering yang jatuh tanpa suara.
Ada semburat rindu, yang ingin kukisahkan.

Ialah bayangan senyummu yang menerpa mata dalam mimpi.
Menitipkan salam pada matahari yang hampir beranjak tinggi,
pada awan-awan yang menghalangi panas menembus halus dahiku,
pada burung-burung yang bercicit sembari terbang dari hilir ke hulu.
Ialah bayangan senyummu yang tak bisa lepas dalam hati.

Ada semburat sendu, yang ingin kubungkam dalam-dalam.
Menitipkan pesan pada batu yang tenggelam,
pada gema yang tersisa kala hujan,
pada dengung lembah yang menjauh perlahan.
Ada semburat sendu, yang ingin kusisihkan.

Ialah pada malam kalbu nan pilu.
Menitipkan pesan pada bintang kelabu,
pada bulan yang bersembunyi malu,
pada kabut yang menghilangkan biru.
Ialah pada malam yang kuinginkan haru.

Selasa, 02 Agustus 2022

Meredam Lara


Padaku, -mu, kita, yang terlanjur sudah terendam asa, tenggelam rasa. Ia, kecewa.

Ini semua seolah seperti berlari, cepat, tanpa jeda, tanpa koma, namun tak ada titik, tak pernah tiba, ia, garis finish yang tidak bisa dicapai. Ini semua seperti berlari, namun selalu jatuh, perih, berusaha berprasangka, ya, baik, tapi tetap sesak yang meliputi. Pada akhirnya aku, kau, kita, mungkin memilih berjalan, atau diam saja tanpa berkata sepatah kata apalagi seribu bahasa?

Bagiku, pagi yang cerah saja bisa berubah kelabu. Aku yang sudah berharap, menjumpai senyum merekah hari itu, jatuh, terduduk lesu. Menangis? Oh, itu tentu akan dan sudah kulakukan. Seolah tak ingin membuka mata, seolah ingin kembali tidur saja, seolah menyesal lara menghadapi hari yang penuh duka. Aku yang membuatnya duka, atau dia, mereka?

Satu kata.

Kecewa.

Hari indah ini menjadi rasa asing dan aku nyaris membencinya.

Kecewa.

Itu, aku.

Harapan yang sudah kugantungkan, harapan yang telah kunantikan, hanyalah ilusi atau khayalan? Semuanya kandas, hilang dan berbekas. Bekas, kecewa, menghujam dada.

Sudah kukatakan, aku menangis. Kusandarkan akhirnya, bahuku pada sosok yang kunantikan, teman, sahabat, tidak, kurasa keluarga. Aku menangis padanya, sebagai limpahan asa yang berbuah air mata. Kata-katanya menenangkanku, cukup membuatku melupakan apa itu kecewa. Kukatakan padanya, rasa pagi ini membuatku hampir membenci segalanya, semuanya. Rasa kecewa meruntuhkanku, memudarkan senyumku seketika, menghilangkan kata-kata, hanya bersisa air mata sebagai nada bicara.

“Aku kecewa. Aku marah. Salahkah aku?”

Tangisku memecah.

“Tidak. Sama sekali tidak. Kau pantas merasakannya.”

Aku tidak berkata lebih lanjut, tetapi air mataku yang berlaku demikian.
Sesaat, kulupakan semua. Semua kejadian di pagi ini, sungguh mengecewakan. Kubiarkan sedikit pikiranku pergi bersama kata-kata yang perlu kulontarkan di hari ini. Ia terbang akhirnya, bersama secercah senyum dan tawa yang hadir kemudian.
Namun, sore datang. Sore menuju malam. Malam disambut rasa kelam itu lagi. 

Perasaan itu lagi.

Kecewa.

Ia datang lagi, menghilangkan garis senyumku yang tadi terulas. Ia menghilangkannya seketika, menggantikannya dengan sendu yang membara. Aku tak tahu, hanya marah. Bahkan tak tahu, marah pada siapa, diriku, atau dirinya, pendatang bagi si kecewa?

Lagi, aku terduduk. Meringkuk di atas ranjang kamar, menatap lurus, ujung-ujung lemari cokelat di hadapanku. Air mata itu turun lagi, melirih lagi, tapi tak lebih lirih dari batinku yang menjerit. Aku sudah lesu.

Menangislah pada akhirnya. Padahal aku sempat tertawa, bersamanya, sahabat bahagia. Namun, menangis lagi, seperti tak cukup tempat dan belum tepat menghabiskan pilu. Seolah, seolah sesuatu menungguku untuk mengadu.

Pada-Nya.

Aku mengadu pada-Nya.

Di akhir cerita.

Di akhir rasa kecewa.

Kutumpahkan segalanya. Segala yang kurasa.

Sebab aku percaya, Dia mendengarnya.

Aku mengadu pada-Nya, di saat ini, di saat kecewa. Dia tentu menyambutku, sebab malu bagi-Nya, tamu yang datang namun pulang dalam keadaan hampa. Malu bagi-Nya, tak memenuhi apa yang aku pinta.

Dia, Sang Pencipta segalanya,

yang menciptakan rasa,

yang menciptakan kecewa,

namun tak pernah mengecewakan.

Minggu, 05 Juni 2022

Ketika Kamu Belum Selesai Dengan Dirimu Sendiri

Terkadang, kita sulit melangkah ke depan karena merasa ada hal-hal yang tertinggal di belakang. Oleh karenanya, alih-alih melanjutkan perjalanan, kita kembali melihat ke belakang dan berjalan mundur. Ada hal yang sulit untuk dilupakan, ada hal yang sulit untuk direlakan, ada hal yang tidak mudah untuk begitu saja dimaafkan,

ada hal yang memang sebenarnya belum selesai.

Sedikit bercerita, tahun lalu, 2021, adalah tahun terberat kedua di masa hidupku (terberat setelah aku pernah mengalami bullying di tahun 2008 silam). Aku melalui banyak penolakan, banyak "penipuan mental" dan banyak mengalami kegagalan. Dari mulai struggling mencari pekerjaan sebagai seorang fresh graduate, "ditipu" oleh sebuah perusahaan lokal yang mengatasnamakan "business consultant sehat", culture shock di kantor baru, hingga ditolak beasiswa impian. Rasanya sedih, menyakitkan dan membuat trauma baru.

Aku sempat berpikir, waktu kuliah S1, hidupku baik-baik aja: akademis berjalan dengan baik, organisasi oke, komunitas berjalan stabil, penghasilan cukup dari hasil part-time, betul-betul berada di fase yang "balance" sampai merasa bahwa aku benar-benar beruntung dengan itu semua.

Tapi, seperti badai yang tiba-tiba menghantam tanpa jeda, tepat sebulan-dua bulan setelah aku lulus, semuanya luluh-lantak. Semua "kehidupan tenang dan membanggakan" yang aku miliki seolah-olah, kandas. Untuk kedua kalinya, aku merasa payah, putus asa, tidak berguna, dan itu semua nyaris merenggut kesehatan mentalku.

Minggu, 17 April 2022

Do You Have Goals? These are Some Steps to Make Your Goals Achievable 😎

Minggu ini lagi rame banget di medsos soal wishlist yang dibuat oleh seseorang (if you know, you know lah ya wkwk). Tapi, di Pena Azri kali ini, aku nggak bakal mengulik wishlist yang dia buat, sih, melainkan mau ngajak Sahabat Pena untuk menelaah, kira-kira wishlist yang kita buat selama ini tuh udah achievable belum, sih? Plus, selain menelaah, aku mau kasih beberapa tips untuk membuat daftar life goals yang realistik dan nggak bikin kita semua merasa tertekan, apalagi sampai getting stressed. Tulisan ini udah pasti nyambung sama tulisan-tulisan sebelumnya, terutama how to do a thing that you want and can do. Jadi, pembuatan wishlist itu sebaiknya adalah berkaitan dengan hal-hal yang kita suka dan kita bisa. At least we have prior and basic knowledge of things that we want to do and achieve. Gitu.

Oke, so.... how to make our goals achievable?

Mungkin ada sebagian besar yang udah tau metode SMART dan metode ini cukup membantu kita dalam membuat goals. Entah itu goals pribadi, goals yang bakal "dipertanggungjawabkan" untuk mendaftar beasiswa tertentu, goals untuk membangun komunitas, dan lain-lain. 

Apa sih metode SMART itu?


Sebelum kita lanjut untuk mengulik si SMART ini, aku punya sedikit contoh wishlist dan nanti kita coba bedah bareng-bareng ya (tapi aku menolak untuk membedah wishlist si WM karena tidak ingin ada kesalahpahaman hahaha). Jadi, ada yang punya wishlist kayak gini:
My goals in 5 years from now:

1. Being a lecturer
2. Studying abroad
3. Developing social community related to Mental Health Awareness
4. Having my own start-up
5. Being a wife

Udah dilihat-lihat ya goals di atas, sekarang kita coba bedah pakai metode SMART.

Pertama-tama, kalau kita mau membuat goals kita bisa dicapai, we have to make our goals specific. Maksudnya spesifik itu, bagaimana, sih? Well-defined, clear, and significant. Coba buat goals yang jelas dan nggak ambigu, serta signifikan. Kenapa harus begitu? Karena kalau goals kita itu jelas, kita pasti bisa fokus buat mencapai itu dan tentunya termotivasi dong? 

Nah, kalau dilihat dari contoh wishlist di atas, sebenarnya udah oke. Hanya saja, ada beberapa hal yang nggak spesifik. Misalnya, poin 1, dia mau jadi dosen. Iya, dosen apa? Dosen jurusan yang linearkah dengan jurusannya waktu S1 atau S2/S3? Yaaa, mungkin aja dia mau jadi dosen yang nggak linear dengan pendidikan S1-nya, tetapi linear dengan pendidikan S2/S3-nya. Terus, studying abroad. Mau studying abroad ke negara mana? Universitas mana? Mau ngejar beasiswa atau nggak? Ini perlu diperjelas lagi. Selanjutnya, having start-up. Itu start-up di bidang apa? Relate nggak sama permasalahan di masyarakat? Bisa menjawab masalah konsumen, nggak? Nah, belum jelas, kan? Berarti goals-nya belum spesifik.

Kedua, goals itu harus yang measurable. Artinya, with specific criteria that measure your progress toward the accomplishment of the goal. Kalau nggak ada kriterianya, ya goals itu bakal sulit untuk dicapai. Bukan nggak mungkin, lho, ya, tapi SULIT, apalagi kita udah menargetkan waktu sekian tahun buat mencapai itu. Balik ke contoh tadi, katakanlah dia udah nentuin mau jadi dosen Biologi dan sekarang dia udah lulus S1 dari jurusan Biologi. Nah, dia harus memperkirakan, kapan harus lanjut S2, berapa tahun harus lulus, kemudian kalau memang mau ambil kesempatan ke luar negeri, apa harus dengan beasiswa? Jika iya, beasiswa apa? Berapa lama persiapaannya? Harus jelas, agar waktu yang ditargetkan juga jelas.

Ketiga, buat goals yang attainable. Maksudnya, goals kamu tuh harus realistis biar mudah tercapainya. Coba kita balik lagi ke step sebelumnya, ya. Dia mau lanjut S2 ke luar negeri dengan beasiswa untuk mencapai goals-nya sebagai seorang dosen dalam 5 tahun ke depan. Katakanlah, untuk mempersiapkan beasiswa sampai dapat LoA (Letter of Acceptance) dari universitas luar negeri kurang lebih membutuhkan waktu minimal 1 tahun. Dan, rata-rata S2 di luar negeri membutuhkan waktu 2 tahun (walaupun di UK cuma butuh 1 tahun, tapi ambil kasarnya aja 2 tahun ya). Dari target waktunya, dia sudah menghabiskan waktu 3 tahun untuk berupaya memenuhi wishlist poin 1 dan poin 2. Artinya, dia hanya punya waktu 2 tahun lagi untuk benar-benar menjalankan goal-nya sebagai dosen dan sisa goals yang lain. Kalau dari perhitungan ini, kira-kira realistis nggak, sih, wishlist-nya? Ini bukan masalah ketinggian atau pesimis bahwa semua hal di dunia ini nggak ada yang nggak mungkin πŸ˜† tapi how our goals achievable. Bisa dicapaikah dalam waktu 5 tahun semua poin itu? Kalau ternyata, untuk bikin start-up itu bisa dicapai setelah tahun ke-5, berarti goals-nya nggak achievable, kan? Mungkin, biar lebih realistis, coba dikurangi wishlist-nya. Untuk bangun sebuah start-up kayaknya butuh effort yang besar, belum lagi tetap mau jadi dosen. Baiknya, poin ke-4 itu dieliminasi aja :)

Keempat, are your goals relevant? Kira-kira goals yang kita buat itu udah relevan satu sama lain atau belum, sih? Untuk tahu apakah relevan atau nggak, coba buat question list, misalnya:

a. Is the goal realistic and within reach?
b. Does this seem worthwhile?
c. Is the goal reachable, given the time and resources?
d. Are you able to commit to achieving the goal?

Kalau jawabannya "yes", berarti goals-nya relevan. Kalau dilihat-lihat dari wishlist yang dibuat itu, dia pengen bergerak dalam bidang pendidikan, sekaligus punya kontribusi sosial dan menjadi seorang enterpreneur. Tapi, coba lihat poin kelima, deh. Kira-kira itu relevan nggak sih dengan empat poin lainnya? wkwkwk kayaknya kalau jadi istri, ini perlu dispesifikin juga, mungkin maksudnya mau belajar parenting and being a good wife kali ya πŸ˜… Selain itu, perlu dipertimbangkan juga, apakah menjalankan komunitas sosial, sekaligus jadi enterpreneur itu mungkin? Kalau mungkin, berarti harus diperjelas berbagai kriteria yang lain.

Terakhir, your goals must be time-bound. Maksudnya, punya start and finish date yang jelas. Kapan mau dimulai? Berapa lama waktu untuk menjalankan itu? Kapan kira-kira harus sudah tercapai? Jika goals-nya nggak dibatasi waktu, nggak akan ada rasa urgensi dan, pasti kita jadi kurang motivasi untuk mencapai goals tersebut. Dalam waktu 5 tahun, kira-kira 5 poin wishlist itu bisa tercapai, nggak, ya? Kalau ternyata nggak bisa semua, mungkin bisa ditambah rentang waktunya, atau dieliminasi beberapa dan kasih rentang waktu yang baru.

Jadi, itu ya, guys, soal membuat wishlist kita achievable dengan metode SMART. Inget, ya. Hidup bukan perlombaan siapa yang goals-nya banyak, dia yang paling sukses. NO, IT'S NOT! Sukses nggak harus selalu dengan banyak dan besarnya impian yang kita punya. Bagaimana kita bisa fokus dan berkomitmen, itulah yang terpenting. Intinya, make your goals realistic and achievable. Mau sesulit apa pun, se-idealis apa pun goals yang kita punya, tapi kalau goals tersebut realistik dan jelas, nggak akan menjadi nggak mungkin untuk dicapai. Semangat!


Sumber:

https://www.mindtools.com/pages/article/smart-goals.htm

https://corporatefinanceinstitute.com/resources/knowledge/other/smart-goal/

Minggu, 10 April 2022

How to Deal with Your Insecurity

Seringkali kita merasa bahwa hidup ini nggak adil. Entah secara menyeluruh, atau sebagian. Tapi yang jelas, kita ingin apa yang sedang berjalan di dalam hidup haruslah sesuai dengan harapan. Apa pun bentuknya. Mungkin pendidikan kita, karir, percintaan, kesehatan, dan hal lainnya yang sebenarnya bisa saja kita ekspektasikan terlalu tinggi.

Namun, satu pertanyaan yang selalu muncul di dalam benakku ketika aku merasa kecewa dengan apa yang terjadi (salah satunya mungkin doa-doa yang belum terkabulkan), apakah hidup yang tidak pernah memihakku, atau aku yang justru memilih untuk tidak memihak hidup yang serba tidak sempurna ini? Bagaimana mungkin aku mengharapkan kesempurnaan kepada kehidupan di dunia yang tidak sempurna? Bukankah itu egois namanya?

Rasa kecewa yang kita alami tidak jarang menumbuhkan rasa insekyur yang akhirnya berdampak pada keengganan untuk mencintai diri sendiri. Bukan berarti aku menulis ini, lantas aku merasa telah sepenuhnya mencintai diriku. Bukan. Aku masih terus belajar untuk mencintai diriku, dan pelajaran ini adalah pelajaran seumur hidup. Pelajaran untuk menjemput kebahagiaan.

Perasaan insekyur atau yang lebih umum diartikan sebagai perasaan tidak percaya diri, takut, malu, akibat rendahnya kita dalam menilai diri, cenderung terjadi karena terlalu memaksanya kita pada kesempurnaan hidup. Padahal, seperti yang tadi kukatakan, hidup itu penuh dengan ketidaksempurnaan. Bagaimana aku, kamu, kita semua mengharapkan hidup tanpa cacat jika kehidupan itu sendiri menjadi berwarna dan penuh tantangan dengan adanya "kecacatan"? Coba kita bayangkan hidup yang perfect di dalam bayangan kita, tanpa celah sama sekali, mungkinkah perjalanan hidup kita akan bermakna?

Di sini ada beberapa hal yang bisa aku tuliskan untuk, setidaknya, meredam rasa insecure yang kita alami. Mungkin beberapa poin di bawah ini memang tidak baku, tetapi aku harap bisa cukup membantu untuk kalian yang dilanda perasaan rendah diri atau kurang dalam mencintai diri.

1. Bandingkanlah dirimu (yang sekarang) dengan dirimu yang lalu, alih-alih dengan orang lain.

Aku yakin, banyak di antara kamu yang merasa bahwa poin pertama ini sangat klise. Yes, it is. Tapi, kalian harus tahu bahwa memang benar kita nggak bisa membandingkan hidup kita, baik itu sepenuhnya ataupun sebagian, dengan orang lain. Jalan kita dengan orang lain itu berbeda. Bahkan pasti your ways and mines to deal with insecurity are different. Sesimpel cara kita makan, cara kita berbicara, cara kita melihat atau menyukai sesuatu, berbeda. Bagaimana mungkin kita menyamakan jalan hidup kita dengan orang lain?

Kalau boleh jujur, aku baru belajar membandingkan diriku dengan diriku yang lalu, beberapa bulan belakangan ini. Aku melihat bahwa diriku berkembang, walaupun sedikit demi sedikit. Contohnya, aku mulai sadar tentang manajemen waktu yang baik, manajemen keuangan yang baik (walaupun masih suka membeli sesuatu yang nggak aku butuhkan πŸ˜…, tetapi sudah bisa dikurangi), hingga hal-hal menahan amarah, dan berpikir lebih jernih sebelum bertindak.

Membandingkan diri itu perlu menurutku. Bukan membuat kita semakin merendahkan diri, tetapi justru sebuah bentuk perjalanan menyenangkan untuk memperbaiki diri. So, don't be scared. Kamu nggak pernah sendirian mengalami insekyur. Ribuan orang di luar sana mengalami hal yang sama dan rasa ini tidak terbatas pada siapa pun. Bahkan, orang yang kita anggap hidupnya baik-baik saja, dia bisa mengalami insecurity.

Oleh karena itu, coba kamu renungkan, hal-hal yang sudah kamu lewati sampai di titik ini. Pasti itu bukan perjalanan yang mudah, but you did it and it's so amazing! Kamu nggak sadar bahwa kamu sudah sampai di sebuah tempat yang dulu mungkin sulit untuk kamu bayangkan. Kadang, kita perlu kembali melihat masa lalu untuk menghidupkan masa depan kita. You'll see it by yourself, I believe it.

2. Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri.

Jangan pernah terlalu keras pada dirimu sendiri, dan jangan pernah memaksa diri untuk melakukan apa yang tidak bisa dilakukannya. Ibarat balon yang kamu isi dengan udara melebihi kapasitasnya. Apa yang terjadi? Iya, balon itu pecah. Ia rusak, bahkan nggak bisa dipakai lagi.

Kita harus menyadari seberapa besar kapasitas diri kita, seberapa sanggup kita, dan apa hal yang sebenarnya bisa kita lakukan. Kita nggak pernah dipaksa oleh siapa pun untuk melakukan hal yang kita nggak bisa lakukan. Kita yang membuat diri kita melakukan apa yang sebenarnya di luar kemampuan diri kita. Kamu ingin melakukan ini, melakukan itu, padahal kamu tahu bahwa dirimu tidak ada di sana. Di sana bukan tempat untuk dirimu. Idealis? Iya, memang. Tapi jika hidup ini terlalu realitis, atau tidak adanya keseimbangan antara idealis dan realistis, hidup tidak akan berjalan dengan baik.

Ini sama seperti ketika kita mencintai seseorang. Kita terlalu mencintai orang itu hingga hati kita terlalu penuh olehnya, dan saat orang itu menyakiti kita, hati kita hancur dan semua kepingan hati itu dibawa oleh dia, sampai kita nggak bisa memperbaiki apa yang seharusnya kita perbaiki. It really hurts. 

Atau sesimpel ketika orang bertanya, "Lebih baik bekerja dengan banyak tekanan tapi gaji besar atau bekerja sesuai passion tapi gaji biasa-biasa aja (bahkan cenderung kecil)?"

Coba kamu jawab yang jujur. Kamu pilih yang mana? Karena pilihan kamu cukup membuktikan seberapa besar kamu mencintai dirimu.

Aku nggak bilang mereka yang bekerja dengan banyak tekanan tapi gaji besar berarti tidak mencintai dirinya sendiri, dan aku juga nggak bilang bekerja sesuai passion tapi gaji biasa-biasa aja berarti mencintai diri. Yang aku mau bilang adalah apa yang kamu pilih adalah how you treat yourself and life. Pada intinya, apa pun yang kita pilih, seharusnya tidak menjadi beban untuk diri kita. Jika bekerja di bawah pressure memberikan semangat lebih untuk dirimu, lakukanlah. Jika justru malah membuatmu stres, demotivated, coba pikir-pikir lagi. Juga, jika bekerja sesuai passion justru bukan jalan bahagiamu, tidak usah kamu paksa untuk dilakukan. Toh, kamu bisa menjadikan hal itu sebagai sekadar hobi untuk meredakan kebosanan, mengisi waktu luang, dan tetap produktif, misalnya.

Do what you love and what you really want to do.

3. You are more than what you think.

Kamu lebih hebat dari yang kamu pikir.

Kamu lebih kuat dari yang kamu pikir.

Kamu lebih baik dari yang kamu pikir.

Semua adalah tentang mind-set. Kita bukannya lebih payah dari orang lain. Tapi karena memang kita bukan mereka, dan kita nggak pernah mungkin jadi mereka. Kita berbeda dengan orang lain. Sebaliknya, orang lain juga pasti nggak bisa menjalani hidup kita. Orang lain pasti nggak mampu ada di sisi kita. You're really strong of what you think, you just haven't realised it yet.

Kamu pernah berdebat atau mungkin mendengar orang berdebat kayak gini:

"Coba lo jadi gue, sanggup nggak?"

Pernah?

Kalimat itu justru menunjukkan betapa kuatnya kita, betapa hebatnya kita menjalani hidup kita sendiri. Kita hanya butuh mind-set yang sehat untuk membangun hidup yang sehat dan bahagia. Bukan sempurna, ya. Karena hidup yang sempurna itu nggak akan pernah ada. Yang ada, hidup yang bermakna. Dengan segala ketidaksempurnaan yang kita terima, yang kita akui, kita mendapat makna.

4. Fokus pada hal-hal yang kamu suka dan bisa kamu kembangkan.

Masa muda itu memang dipenuhi dengan berbagai macam bentuk ide. Dari yang sederhana sampai yang liar sekalipun. Kita mau membuat ini, membuat itu, melakukan ini, melakukan itu, buka usaha sekaligus berinvestasi, lanjut kuliah master sekaligus ngembangin komunitas dan buka usaha, dan hal lainnya yang kayaknya sayang kalau nggak kita lakukan sekarang.

Tapi ini balik lagi tentang kesanggupan dan self-egoistic kita. Apa kita nggak terlalu memaksa diri terlalu jauh? Kita selalu memikirkan hak-hak yang ego kita harus penuhi, tapi apa kita memikirkan hak diri kita, physically and mentally?

Pelan-pelan aja. Kamu nggak akan pernah ketinggalan dengan orang lain kalau kamu nggak melakukan semua ide-ide kamu. Hei, hidup ini bukan siapa yang cepat dia yang menang, bukan tentang siapa yang hebat dia yang berkuasa. Hidup ini bukan perlombaan and I am really sure that you literally know that.

Fokus dengan apa yang bisa kamu lakukan. Nggak usah dari hal-hal yang besar dulu, pelan-pelan mulai dari hal yang kecil. Contohnya, fokus bangun pagi, tidak menunda-nunda dalam mengerjakan sesuatu, mungkin jalan pagi setiap hari at least selama 30 menit aja. Dan, kamu bisa lihat apa yang berubah dari diri kamu. Dari hal-hal yang kecil ini, kamu bisa ngelakuin hal yang lebih besar dan kamu suka tentunya, tanpa membebani diri kamu. Mungkin kalau kamu nggak bisa belajar coding kayak orang lain, ya jangan dipaksa. Kamu bisanya desain, ya udah belajar desain. Atau bisanya dan sukanya menulis, ya udah, menulislah. Dan kamu bukan komputer yang bisa ngelakuin semuanya juga, kan? Fokus dengan satu atau dua hal, fokus banget, dan kembangkanlah. The greatest thing comes not because we do all things together, but we do one thing seriously.

5. Nobody is perfect, so forgive yourself.

Tidak ada satu pun yang sempurna, jadi cobalah untuk menerima segala ketidaksempurnaan diri kita. Memaafkan mungkin bukan hal yang mudah, tapi dengan memaafkan, semua bisa jadi mudah. Memaafkan bukan melemahkan, tetapi justru menguatkan. Memaafkan diri berarti menerima dengan berani bahwa kita telah melakukan yang terbaik. Ia adalah sebuah bentuk apresiasi. Jadi, jangan pernah merasa lemah ketika memaafkan, jangan pernah merasa rendah. Mungkin kamu hanya belum (mau) percaya bahwa kamu hebat, bahwa kamu kuat. Karena siapa yang dengan tulus dapat menerima kekurangan diri kecuali diri kita sendiri?

Nggak ada satu pun orang yang mengerti diri kita. Nggak ada satu pun orang yang bertanggung jawab, apalagi menjamin kebahagiaan untuk diri kita. Kecuali siapa? Kecuali diri kita sendiri? Sulit memang untuk menanam pola pikir demikian, tapi mau sampai kapan kita terkungkung dengan berbagai limitasi yang justru membuat diri kita sendiri menderita? Bagaimana caranya kita bisa bahagia kalau kita nggak bisa percaya bahwa kita bisa bahagia?

So, guys, you're so amazing. Kita semua hanya perlu percaya itu, dan saling mendukung satu sama lain. Inget, kamu nggak pernah sendirian. Ada orang-orang yang juga sedang berjuang seperti kamu untuk punya mental yang sehat. 

Semangat, ya. Kamu pasti bisa :)

Minggu, 13 Maret 2022

Untukmu yang Takut Bahagia

Di sini, kutulis sebuah puisi.

Untuk siapa pun yang takut sendiri,

bahagia sendiri, tersakiti sendiri.

Untuk siapa pun, yang merasa luka lalu.


Aku takut bahagia.

Sebab bahagia adalah suramku,

menukik tajam di atas jari-jemariku,

menyayat satu per satu harapanku


Aku takut bila bahagia,

menyeretku pada kemalangan lama,

kesedihan yang tidak ada akhirnya.

Pada harapan yang tak berujung memesona


Tapi. Coba kau pikir, Diri.

Kau renungkan lagi. Hari-hari berat

yang telah kau lalui, sendiri, lagi.

Pernahkah kau berhenti, menyumpahi isi hati?


Harapanmu masih ada.

Dan bahagia bukan penjerat nelangsa.

Hanya kau yang tak sadarinya,

ia lekatkan kau pada asa


Bila akhirnya bahagia,

Tugasmu hanya tersenyum haru.

Teringat dan merakit perjuangan masa lalu,

hingga tiba di penjuru tanpa rasa sendu



Sabtu, 05 Maret 2022

"You are Completely Beautiful"

Halo, teman-teman semua!!
Selamat malam minggu, ya hihihiii. Cung ngacung siapa yang malem minggunya rebahan sambil nonton serial favorit, atau bantuin ibu di dapur alias malah gangguin πŸ˜† Itu aaaaakuuuuu hahahaha

Oke, jadi hari ini masih dalam rangka nge-up tulisan-tulisan lama dan kebetulan tulisan yang satu ini adalah lanjutan dari postingan sebelumnya. Jadi, buat yang baru gabung untuk membaca Pena Azri hari ini, amat sangat diwajibkan, ga deng, maksudnya amat sangat dipersilakan untuk mampir ke tulisan-tulisan sebelumnya yaaaang insyaAllah bakal nge-boost self-love kamu 😁

Tapi, mau disclaimer dulu nih. Self-love itu bukan berarti kepedean ya, beda Gengs. Self-love itu adalah bagaimana kita mencoba untuk respek dan menerima diri kita apa adanya (bukan kayak dia yang nerima kita ada apanya wkwkwk), memaafkan segala kekurangan diri dan intinya, "stay being you."

Jadi gini, cuitan hari ini masih nyambung sama tulisan sebelumnya ya, soal cantik. Bedanya, kita mau lebih dalemin lagi soal subjective perception about beauty

Kita kan sering banget nih ngomong, "Ih cantik banget sih kamu, cantik banget sih dia, maasyaa Allah banget itu si A cantiknya bukan main!" and bla bla bla, terus emangnya cantik itu sendiri apa sih? (Coba diinget-inget lagi tulisan aku sebelumnya wkwkwk) Atau kalian punya versi sendiri untuk mendefinisikan kata "cantik"?

Sama seperti yang aku pernah bilang sebelumnyaaaa, lebih banyak dari kita yang mendefiniskan cantik sebagai tampilan luar (fisikal), hmm aku nggak bilang semua dari kita ngomong gini lho ya, tapi sebagian besar juga menganggap cantik itu kalau sedap dipandang mata (kok kayaknya agak gimana gitu yaaaa kalimat ini 😝). Cuma kalau dipikir-pikir, definisi cantik yang dilihat dari fisik kayaknya sulit untuk dihindari. Cantik atau cakep buat perempuan tuh pasti dilihat dari kulit putih, mulus ga ada jerawat-jerawat, pori-pori kecil, mata bulat sempurna (anime kali ini mah aih), hidung mancung, alis tebel, lesung pipit kayak Afgan (demi, dari semua ciri-ciri ini bukan gue banget yassalam wkwkwk), belum lagi ditambah tubuh tinggi nan langsing, kaki panjang sempurna, jadi langsung pengen ngomong, "Nikmat-Mu yang mana lagi kah yang dapat kudustakan?" Eh, eh, tapi pasti ada yang bakal berbantah-bantahan sih, kayak ada yang menyanggah, "Eh nggak harus kulit putih kok, si A yang kulitnya eksotis menurut gue cantik, si B yang badannya mungil imut-imut cantik gitu," and other comments yes. Nah, nah, udah lihat sendiri kan, setiap orang punya beda-beda pendapat soal cantik, kalau cuma dilihat sebatas fisik? Jadi, cantik itu sebenarnya relatif atau subjektif?


Kalau kata David Hume, "Beauty is a quality in things themselves, it exists merely in the mind which contemplates them." Setuju banget siiih, berarti cantik itu subjektif, because each mind perceives a different beauty. Beauty is neutral in itself, tapi jadi memiliki "nilai" atau mungkin lebih tepatnya "standarisasi" ketika setiap orang berupaya memaknai itu. Kayak tadi yang aku contohin, ada yang bilang kulit putih cantik, ada yang bilang kulit eksotis atau gelap justru cantik (atau perpaduan keduanya, dan berbagai penilaian lainnya). Nah, ini kelihatan banget kan, kalau setiap orang itu mempersepsi "cantik" in different ways? Tapi pertanyaan lebih lanjutnya, apa sih, yang sebenarnya membuat orang itu fokus pada cantik fisik, apalagi yang memenuhi kriteria seperti yang aku sebutkan di atas? Coba kita flashback dikit, ingat-ingat kalau kamu lagi di rumah, terus nonton program TV eh ada iklan lewat, trus iklannya mempromosikan facial foam, sabun mandi, atau light cream deh, pasti yang mengiklankan (rata-rata) cewek-cewek kulit putih, mulus, badan langsing, iya kan? Dan lebih mirisnya nih wkwkwk ya Allah astagfirullah maap, banyak orang yang buru-buru beli produk yang diiklankan itu dengan tujuan biar kayak cewek-cewek yang ngiklanin itu. Gengs, seharusnya kita refleksi dikit, bukan karena produk-produk itu yang bikin mereka cantik, tapi karena mereka udah cantik makanya mereka disuruh ngiklanin :( Advertisement is a kind of propaganda, iklan ini ditampilkan terus-menerus di TV dan membuat kita jadi berjarak sama realita kita sendiri, ini yang disebut Jean Baudillard, seorang filsuf kontemporer, sebagai simulakrum, artinya simulasi yang diulang-ulang secara terus-menerus agar kita terbawa masuk ke dalamnya, dan ini permainan kapitalis sesungguhnya (ya Allah kok gue jadi ngomongin ginian sih wkwkwk. Ini maksudnya selingan bermanfaat aja ya gengs, biar ga dibohongin iklanπŸ˜”). Kalian boleh percaya hal ini dan boleh dengan mosi tidak percaya, itu juga tidak masalah, namun bukan berarti aku menyuruh kalian untuk ga merawat diri ya, hanya maksudnya sewajarnya aja, jangan dengan motivasi yang tidak realistis seperti itu untuk membeli produk iklannya. Tetap harus wise ya!

Nah, jadi maksudnya apa sih aku ngomong panjang x lebar soal hal-hal barusan dan hubungannya sama "You are Completely beautiful"? 

Jadi gini, Gengs, aku cerita dikit dulu ya wkwkwk. Aku tuh orangnya minderan banget, sering banget ngomong kalo diri aku nggak cantik, aku sering banget protes, kok aku pendek ya, item ya, gendut, hidung minimalis (rumah kali minimalis wkwkwk), mata kecil, betis kayak atlet (asli, sebenernya nggak ada yang salah dengan ini, hanya salah di mata masyarakat, eh*), dan lainnya. Sampe akhirnya aku ambis banget buat jadi cantik, tanya dah sama Bella (sahabat gue wkwk), pertama alasannya biar orang-orang (cewek dan cowok maksudnya nih) suka sama aku. Tapi suatu hari, aku down gara-gara aku ngerasa kok aku udah berusaha cantik, berusaha jadi baik ke semua orang, aku tetap aja dibuang? (Demi Allah kenapa gue mikir gini ya). Satu yang aku lupa. Aku salah niat, Gengs, dan aku juga salah langkah. Niat aku hanyalah karena dunia, karena manusia, makanya kecewa kan? Aku pengen diriku disukai oleh orang lain, tanpa menjadi diriku sendiri (pengen cantiklah, segala macem). Langkahnya juga salah, cantik aku reduksi sesempit itu, hanya berdasarkan fisik yang tadi aku sebutkan. Aku nggak menyalahkan kalian yang mungkin memandang cantik itu termasuk fisik juga, tapi aku pengen memperluas pengertian bahwa sekali lagi, cantik itu luas banget. Dan setiap orang punya penilaian yang berbeda-beda. Rasanya nggak lengkap kalau semua hal kita "lihat" dari yang "tampak" di mata aja, kita lupa bahwa kita punya satu lagi penglihatan yang istimewa dan jujur, yakni hati. 

Kita punya hati yang bisa ngelihat dengan tulus. Mungkin orang bilang, lebay ah, cantik di hati, ga usah sok sok muna deh. Ya Allah, istigfar, Tong. Coba deh, direnungi lagi, fisik itu digerus waktu, tapi batin yang bersih, akan selalu ada sampai nanti. Kita susah bahagia karena kita selalu melihat pakai mata, bukan pakai hati, yang artinya kita kurang untuk melihat hal-hal yang justru lebih dalam dari apa yang ditangkap mata. Maksudku, kita kurang bersyukur, kita kurang menyayangi diri kita sendiri. Aku juga sadar, dengan aku ngeluh-ngeluh, "kok gue gini ya? Kok gue gitu ya?" Berarti aku menghakimi diriku sendiri, padahal nggak pantas kayak gitu :((( 

Seandainya pengertian cantik nggak direduksi sebatas fisik, aku yakin banget, semua perempuan itu cantik. Bukankah juga sebagai seorang Muslim kita sudah tahu bahwa kecantikkan itu dari akhlak? Oke, mungkin bakal ada yang menyanggah, "Tapi kan manusiawi, Zri, kalo lihat dari fisik, namanya juga manusia, lo pasti gitu juga kan, Zri?" Iya bener, Tong, bener. Bener banget. Udah kodrat manusia melihat sesuatu dari fisiknya dahulu, aku juga nggak menyangkal hal itu, kok. Akan tetapi, segala sesuatu itu nggak cuma sebatas fisik. Kalau semua karena rupa, gimana kamu bisa mencintai Tuhan yang nggak ber-rupa?

Dengan menulis ini, bukan maksud mau menyalahkan siap-siapa atau sok-sok berkata paling benar, ya, enggak kok. Aku cuma suka sedih sama kamu-kamu yang suka bilang, "Kok gue ga cantik, ya?" (padahal gue juga suka ngomong gini, ya ini makanya biar ga ngomong gini lagi, pengen buka perspektif baru buat diri). Hei, mungkin kita lupa bersyukur. Kalau kata Martin Heidegger, kita itu hidup karena "keterlemparan", yaudah, terimalah "keterlemparan" itu. Apa yang udah diberikan, disyukuri. Kalau alasannya karena takut ngga ada orang yang mau terima, tetap jangan berusaha jadi orang lain biar bisa diterima (maksudnya berubah dalam tanda kutip nih, paham kan?). Kalau belum ada, semisal, seseorang yang belum bisa nerima karena fisik kita, berarti dia bukan orang yang tepat buat kita. Akan ada kok, suatu hari, aku yakin, orang yang bakal menerima kita apa adanya, seberapa pun kekurangan kita, pun akan ada orang yang kita terima untuk ada di hidup kita. Hidup nggak asik banget loh kalo cuma dilihat berdasarkan hal-hal fisik. Sempit banget jadinya dunia ini. Maaf aku bukan kaum lingkaran Wina, yang rejecting metafisika, jadi aku tetap terima beyond the mind, soalnya hidup kita nggak lengkap kalo empirik2 aja :((

Jadi, intinya sih, syukuri dan cintai diri sendiri ya. Karena kunci kebahagiaan itu kamu yang punya atas dirimu. Aku yakin, kita semua bisa bahagia kalau mau menerima :)

Senin, 28 Februari 2022

Apa Aku Cantik?

Hello, Guys. Maaf baru muncul hari ini nih wkwkwk biasanya kan Sabtu atau Minggu yaaa. Jadi, kemarin-kemarin sempet drop gitu karena capek banget sih ngejar target sana-sini hahaha. But, alhamdulillah, I'm really fine now. Semoga temen-temen Pena Azri juga sehat-sehat selalu yaaa, aamiin...

Oh iyaa, sebenernya ini tulisan lama, tapi pengen aku up lagi karena belakangan ini, aku sering mempertanyakan ke diri sendiri, "Aku tuh cantik gak, sih?" πŸ˜‚πŸ˜‚ Ya mungkin ada juga dari kalian yang suka nanya-nanya begini nih haha. Tapi, wajar nggak, sih? Alias lebay nggak, sih? No, it's normal. Cowok2 yang juga ngalamin "beauty crisis" kayak gini pun wajar banget karena ini semua ada kaitannya dengan hubungan kita dengan manusia lainnya. Iya, nggak? Yakni, masalah identitas dan eksistensi diri. Manusia itu secara hakiki punya keinginan untuk diakui eksistensi dirinya, termasuk salah satunya adalah dari "the way you look at me" (kayak lagunya Christian Bautista wkwkwk). Nah, biar makin jelas, boleh baca artikelku di bawah ya.

Minggu, 20 Februari 2022

How Can I Find Happiness in My Life?

Sebelumnya, aku mau disclaimer dulu mengenai semua tulisan yang aku tuangkan di blog Pena Azri ini. I don't act like a motivator, because I'm not. Tapi, kalau teman-teman ingin menganggap tulisan-tulisan ini memotivasi dan menginspirasi, silakan. I'm very happy about that πŸ˜„ Apa yang aku tulis di sini adalah bentuk pengalaman-pengalaman yang pernah aku dapatkan di dalam hidupku sendiri, atau orang-orang di sekitarku, hingga pengetahuan yang aku punya atas apa yang aku pelajari selama kuliah hingga hari ini. So, I hope you guys can enjoy my writings, and feel free to give any comments and feedbacks.

Sabtu, 12 Februari 2022

Kita Punya Pilihan

Pernahkah kamu bertanya (pada dirimu sendiri), mengapa kamu terlahir ke dunia ini, sebagai dirimu dengan namamu?

Biarkan aku menebak... Pasti setidaknya, sekali dalam seumur hidupmu, kamu pernah bertanya demikian, meski terkadang enggan untuk mengakuinya (karena kadangkala lebih memilih untuk menjalaninya, ketimbang bertanya akannya). Lantas, apakah salah, jika kita mempertanyakan takdir yang telah digariskan di dalam hidup kita? Bukankah itu hal yang wajar?

Semua orang tahu, dan semua orang bisa mengakui bahwa mereka pasti pernah bertanya-tanya, "Kenapa sih, aku nggak berkulit putih? Kenapa aku nggak berhidung mancung? Kenapa aku ngga bisa punya privilege untuk bisa menempuh kuliah di LN, boro2 di luar negeri, kuliah di dalam negeri aja harus banting tulang sana-sini? Kenapa aku harus jadi perempuan yang ribet banget hidupnya, baperan pula? Kenapa aku harus jadi laki-laki yang kelak harus jadi kepala keluarga, padahal jadi kepala buat diri sendiri aja susah?" Hingga sampai kepada pertanyaan,

"Kenapa, sih, aku harus hidup?"

Kalau berbicara tentang pilihan, aku jadi mau bercerita tentang suatu pengalaman, ya, mungkin bisa dibilang sebagai pengalaman yang tidak menyenangkan di dalam hidupku.

Bullying.

Waktu kelas 4 SD, aku pernah di-bully. Aku bahkan masih bisa mengingat setiap detail kejadian pembullyan itu. Setiap kali ingat, aku suka ingin menangis, tapi alhamdulillah, sekitar 5 tahun belakangan, aku sedikit-sedikit sudah memaafkan kejadian itu, siapa pun dan apa pun yang terlibat di dalamnya.

Umurku baru 9 tahun saat itu, aku pemalu, sangat pemalu dan, penakut. Saking pemalunya, aku hampir nggak punya teman di kelas. Singkat cerita, aku pengen ngelakuin apa pun asal punya teman, asal aku nggak dijauhi. Sampai akhirnya, aku punya satu teman sebangku, dan dialah orangnya. Orang yang sekarang aku anggap sebagai salah satu takdir yang menjadikanku seperti Azri yang sekarang ini.

Aku nggak bisa, mungkin lebih tepatnya nggak mau menceritakan setiap detail pembullyan itu, walaupun aku masih ingat persis hingga hari ini. Yang mau aku ceritakan adalah, saat itu, aku merasa nggak punya pilihan. Aku merasa... aku. mau. mati. aja. 

Mungkin ada yang nggak percaya, tapi ini serius. Aku sempet hampir nggak naik kelas, nilaiku anjlok, hampir bolos setiap hari, dan pada saat pengambilan rapot semester 2 waktu itu, aku peringkat terakhir di kelas, dari sekitar 48 siswa. Kadang mau ketawa kalau diingat, kadang juga ngerasa sedih dan bersyukur. Lebih parahnya lagi, saat itu aku mengutuk Tuhan, aku bahkan pernah bilang,

"Kalau Allah itu ada, kenapa Allah nggak pernah nolong aku? Kenapa aku hidup kayak gini?"

Gila, kan? Anak kelas 4 SD yang sebenarnya ngga sewajarnya berpikir demikian, tapi aku sungguh mempertanyakan keberadaan Tuhan saat itu. Hidupku hancur banget, berantakan, kayak ngga ada harapan lagi. Aku bahkan jadi pembangkang, suka marah-marah di rumah, berkata kasar, suka memukul adik, it's just like, someone broke my life at that time and I really wanted to leave it. Kacau.

In short, di masa-masa liburan kelas 4 menuju kelas 5, aku mencoba bertekad untuk jadi anak yang pemberani and I said to myself, "Kalau ketika naik kelas nanti aku ngga di-bully lagi, itu berarti Allah ada, karena Allah nolong aku."

And, you know? It happened. It really happened.

Di kelas 5, aku ketemu sama seorang guru yang maasyaa Allah luar biasa baik. Aku bener-bener nggak tahu sih, harus cerita bagaimana, but literally, it's magical. Entah kenapa, semuanya bener-bener udah diatur oleh-Nya, aku bahkan nggak bisa menalar itu sampai hari ini. Aku ketemu seorang guru yang membuat aku bangkit lagi. Nilai-nilaiku naik, aku bahkan masuk peringkat 10 besar dari yang hampir nggak naik kelas. Dan si pembully? Dia justru jadi segan buat berbicara denganku. And the bullying had never happened again.

Kalau diceritain, sebenernya kisah pembullyian ini panjangggg banget (mungkin kapan-kapan kita bisa sharing secara langsung ya hehe). Tapi intinya, I just want to say one important thing:

Adalah ilusi bahwa kita nggak punya pilihan dalam hidup ini. We all have choices. Kita semua hidup dengan pilihan. 

Aku, yang saat itu berpikir seolah nggak punya pilihan kecuali mengakhiri hidup, ternyata memilih untuk bertekad menjadi orang yang pemberani, yang mulai menghargai hidupku sendiri. Itu pilihan.

Kita mungkin nggak bisa memilih untuk terlahir dari siapa, sebagai apa dan siapa. No, we can't choose that. We're really never could.

Akan tetapi, kita bisa memilih untuk menjalaninya seperti apa dan bagaimana. Pilihan-pilihan itu yang justru membuat kita hidup dan menjadikan kita sebagai manusia.

Ada satu kutipan yang aku pegang sampai hari ini. Kalimat ini pernah diujarkan oleh salah seorang sahabat Rasulullah SAW, yakni Umar bin Khattab:

"Sometimes the people with the worst past, create the best future."

Semua orang pasti pernah punya masa lalu, I can guarantee that. Tapi, pilihan untuk menjalani dan melewati masa lalu itu justru membuat kita hidup. Kalau ngga, mungkin kamu ngga bisa baca tulisan ini sekarang. Iya, kan?

Jadi, untuk kamu, siapa pun kamu, aku cuma mau bilang: jangan merasa bahwa kamu paling terasingkan di dunia ini, merasa paling ngga sempurna dan terkucilkan. Bagaimana mungkin kamu bisa mengharapkan kesempurnaan sementara apa yang ada di dunia ini penuh dengan ketidaksempurnaan (bahkan dunia ini sendiri nggak sempurna)? Mungkin sulit, dan aku pun juga masih belajar untuk menerima diri dengan segala pilihan yang kita punya. Siapa yang akan menerima kamu jika kamu nggak bisa menerima dirimu sendiri?

Belajarlah, untuk menerima.

You're going to make it. It will be hard. But, you're going to make it.

So, one more thing: You have a choice in your own life, no one can take it. So bring it, and hold it as if it will help you just like God loves you.

Senin, 31 Januari 2022

A Beginning is Coming!

 Assalamu'alaikum.....

Hello, everyone! Hopefully, you guys are happy and having an awesome day 😍

So... Mungkin ada yang bertanya-tanya tentang kenapa Pena Azri mengganti tema secara keseluruhan dari yang berisi cerpen-cerpen atau puisi-puisi, plus curhatan-curhatan nggak penting dari adminnya πŸ˜‚ sekarang malah beralih ke tulisan-tulisan tentang mental health. 

Sebenernya peralihan tulisan di blog ini nggak tanpa rencana tentunya. I've been planning all the time to use my blog as a medium for everyone who wants to share or even find any insightful writings about mental health struggles, women stereotypes, and other things about life goals or life definitions maybe... Jadi memang insyaAllah blog ini akan didedikasikan untuk hal-hal tersebut. Why did I decide to dedicate my blog to those topics? Karena sejujurnya, (di samping admin sendiri sedang merasakan quarter life crisis πŸ˜…) admin banyak mendengar dan bahkan melihat orang-orang kehilangan keyakinan pada diri sendiri, terkikisnya dorongan untuk tetap mencintai dan menghargai diri, hingga lupa bahwa kita semua terlahir imperfect.

Di sinilah letak pertanyaannya. Emang salah ya, kalau kita nggak sempurna? Salah ya, kalau di umur kita yang udah mau 25 atau bahkan lebih dari 25 belum punya apa-apa? Salah, kalau di umur segini, batang idung jodoh belum keliatan juga? πŸ˜‚ Sampe-sampe setiap saat harus nengok keberhasilan (katanya) tetangga sebelah (padahal tetangga sebelah juga nengoknya ke kita, jiaaahh wkwkwk). Hal-hal tersebutlah yang pengen banget nih aku bahas di Pena Azri. Because we all have our own values. Nggak ada tuh orang yang terlahir tanpa ada value di dirinya. Bahkan, setiap orang berhak untuk membuat dan memberi value untuk dirinya sendiri. So.... sekarang, coba deh kita sama-sama throw away our mindsets about how imperfect we are and how nothing we are. Nggak, lo bukan nothing, lo something. Cuma lo nggak sadar aja, hmmm nope, LO BELUM SADAR.

Nah, karena hal-hal itu, aku pengen banget nih, bersama-sama dengan kalian, pembaca setia Pena Azri atau mungkin pengunjung baru Pena Azri untuk sama-sama grow up with health mindset. Sebab, kalo kita terus-terusan terkungkung dengan poor mindset, I can guarantee that you'll be unsatisfied with anything. Dan, ujung-ujungnya, you'll be dissappointed.

Oke. Jadi bisa ya, mulai untuk pasang niat dulu aja deh, kalo kita semua bisa punya mental dan mindset yang sehat.

Semangat ya, Chingu! InsyaAllah bisa. πŸ’“


Malam

Ada semburat rindu, yang ingin kuterbangkan. Menitipkan sedikit hembusan pelan pada angin yang berhembus lembut, pada ranting-ranting yang...