Sabtu, 12 Februari 2022

Kita Punya Pilihan

Pernahkah kamu bertanya (pada dirimu sendiri), mengapa kamu terlahir ke dunia ini, sebagai dirimu dengan namamu?

Biarkan aku menebak... Pasti setidaknya, sekali dalam seumur hidupmu, kamu pernah bertanya demikian, meski terkadang enggan untuk mengakuinya (karena kadangkala lebih memilih untuk menjalaninya, ketimbang bertanya akannya). Lantas, apakah salah, jika kita mempertanyakan takdir yang telah digariskan di dalam hidup kita? Bukankah itu hal yang wajar?

Semua orang tahu, dan semua orang bisa mengakui bahwa mereka pasti pernah bertanya-tanya, "Kenapa sih, aku nggak berkulit putih? Kenapa aku nggak berhidung mancung? Kenapa aku ngga bisa punya privilege untuk bisa menempuh kuliah di LN, boro2 di luar negeri, kuliah di dalam negeri aja harus banting tulang sana-sini? Kenapa aku harus jadi perempuan yang ribet banget hidupnya, baperan pula? Kenapa aku harus jadi laki-laki yang kelak harus jadi kepala keluarga, padahal jadi kepala buat diri sendiri aja susah?" Hingga sampai kepada pertanyaan,

"Kenapa, sih, aku harus hidup?"

Kalau berbicara tentang pilihan, aku jadi mau bercerita tentang suatu pengalaman, ya, mungkin bisa dibilang sebagai pengalaman yang tidak menyenangkan di dalam hidupku.

Bullying.

Waktu kelas 4 SD, aku pernah di-bully. Aku bahkan masih bisa mengingat setiap detail kejadian pembullyan itu. Setiap kali ingat, aku suka ingin menangis, tapi alhamdulillah, sekitar 5 tahun belakangan, aku sedikit-sedikit sudah memaafkan kejadian itu, siapa pun dan apa pun yang terlibat di dalamnya.

Umurku baru 9 tahun saat itu, aku pemalu, sangat pemalu dan, penakut. Saking pemalunya, aku hampir nggak punya teman di kelas. Singkat cerita, aku pengen ngelakuin apa pun asal punya teman, asal aku nggak dijauhi. Sampai akhirnya, aku punya satu teman sebangku, dan dialah orangnya. Orang yang sekarang aku anggap sebagai salah satu takdir yang menjadikanku seperti Azri yang sekarang ini.

Aku nggak bisa, mungkin lebih tepatnya nggak mau menceritakan setiap detail pembullyan itu, walaupun aku masih ingat persis hingga hari ini. Yang mau aku ceritakan adalah, saat itu, aku merasa nggak punya pilihan. Aku merasa... aku. mau. mati. aja. 

Mungkin ada yang nggak percaya, tapi ini serius. Aku sempet hampir nggak naik kelas, nilaiku anjlok, hampir bolos setiap hari, dan pada saat pengambilan rapot semester 2 waktu itu, aku peringkat terakhir di kelas, dari sekitar 48 siswa. Kadang mau ketawa kalau diingat, kadang juga ngerasa sedih dan bersyukur. Lebih parahnya lagi, saat itu aku mengutuk Tuhan, aku bahkan pernah bilang,

"Kalau Allah itu ada, kenapa Allah nggak pernah nolong aku? Kenapa aku hidup kayak gini?"

Gila, kan? Anak kelas 4 SD yang sebenarnya ngga sewajarnya berpikir demikian, tapi aku sungguh mempertanyakan keberadaan Tuhan saat itu. Hidupku hancur banget, berantakan, kayak ngga ada harapan lagi. Aku bahkan jadi pembangkang, suka marah-marah di rumah, berkata kasar, suka memukul adik, it's just like, someone broke my life at that time and I really wanted to leave it. Kacau.

In short, di masa-masa liburan kelas 4 menuju kelas 5, aku mencoba bertekad untuk jadi anak yang pemberani and I said to myself, "Kalau ketika naik kelas nanti aku ngga di-bully lagi, itu berarti Allah ada, karena Allah nolong aku."

And, you know? It happened. It really happened.

Di kelas 5, aku ketemu sama seorang guru yang maasyaa Allah luar biasa baik. Aku bener-bener nggak tahu sih, harus cerita bagaimana, but literally, it's magical. Entah kenapa, semuanya bener-bener udah diatur oleh-Nya, aku bahkan nggak bisa menalar itu sampai hari ini. Aku ketemu seorang guru yang membuat aku bangkit lagi. Nilai-nilaiku naik, aku bahkan masuk peringkat 10 besar dari yang hampir nggak naik kelas. Dan si pembully? Dia justru jadi segan buat berbicara denganku. And the bullying had never happened again.

Kalau diceritain, sebenernya kisah pembullyian ini panjangggg banget (mungkin kapan-kapan kita bisa sharing secara langsung ya hehe). Tapi intinya, I just want to say one important thing:

Adalah ilusi bahwa kita nggak punya pilihan dalam hidup ini. We all have choices. Kita semua hidup dengan pilihan. 

Aku, yang saat itu berpikir seolah nggak punya pilihan kecuali mengakhiri hidup, ternyata memilih untuk bertekad menjadi orang yang pemberani, yang mulai menghargai hidupku sendiri. Itu pilihan.

Kita mungkin nggak bisa memilih untuk terlahir dari siapa, sebagai apa dan siapa. No, we can't choose that. We're really never could.

Akan tetapi, kita bisa memilih untuk menjalaninya seperti apa dan bagaimana. Pilihan-pilihan itu yang justru membuat kita hidup dan menjadikan kita sebagai manusia.

Ada satu kutipan yang aku pegang sampai hari ini. Kalimat ini pernah diujarkan oleh salah seorang sahabat Rasulullah SAW, yakni Umar bin Khattab:

"Sometimes the people with the worst past, create the best future."

Semua orang pasti pernah punya masa lalu, I can guarantee that. Tapi, pilihan untuk menjalani dan melewati masa lalu itu justru membuat kita hidup. Kalau ngga, mungkin kamu ngga bisa baca tulisan ini sekarang. Iya, kan?

Jadi, untuk kamu, siapa pun kamu, aku cuma mau bilang: jangan merasa bahwa kamu paling terasingkan di dunia ini, merasa paling ngga sempurna dan terkucilkan. Bagaimana mungkin kamu bisa mengharapkan kesempurnaan sementara apa yang ada di dunia ini penuh dengan ketidaksempurnaan (bahkan dunia ini sendiri nggak sempurna)? Mungkin sulit, dan aku pun juga masih belajar untuk menerima diri dengan segala pilihan yang kita punya. Siapa yang akan menerima kamu jika kamu nggak bisa menerima dirimu sendiri?

Belajarlah, untuk menerima.

You're going to make it. It will be hard. But, you're going to make it.

So, one more thing: You have a choice in your own life, no one can take it. So bring it, and hold it as if it will help you just like God loves you.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Malam

Ada semburat rindu, yang ingin kuterbangkan. Menitipkan sedikit hembusan pelan pada angin yang berhembus lembut, pada ranting-ranting yang...