Pena Azri
Melalui pena, kita akan berbicara banyak hal. Our lifes, experiences, every struggle that we face in every day life. Tulisan-tulisan di dalam Pena Azri didedikasikan untuk teman-teman yang sedang berjuang dalam mental health, upaya mencintai diri, serta perempuan-perempuan yang sedang dan terus berjuang untuk selalu menjadi dirinya sendiri.
Sabtu, 20 Agustus 2022
Malam
Menitipkan sedikit hembusan pelan pada angin yang berhembus lembut,
pada ranting-ranting yang bergemerisik lirih,
pada daun-daun kering yang jatuh tanpa suara.
Ada semburat rindu, yang ingin kukisahkan.
Ialah bayangan senyummu yang menerpa mata dalam mimpi.
Menitipkan salam pada matahari yang hampir beranjak tinggi,
pada awan-awan yang menghalangi panas menembus halus dahiku,
pada burung-burung yang bercicit sembari terbang dari hilir ke hulu.
Ialah bayangan senyummu yang tak bisa lepas dalam hati.
Ada semburat sendu, yang ingin kubungkam dalam-dalam.
Menitipkan pesan pada batu yang tenggelam,
pada gema yang tersisa kala hujan,
pada dengung lembah yang menjauh perlahan.
Ada semburat sendu, yang ingin kusisihkan.
Ialah pada malam kalbu nan pilu.
Menitipkan pesan pada bintang kelabu,
pada bulan yang bersembunyi malu,
pada kabut yang menghilangkan biru.
Ialah pada malam yang kuinginkan haru.
Selasa, 02 Agustus 2022
Meredam Lara
Minggu, 05 Juni 2022
Ketika Kamu Belum Selesai Dengan Dirimu Sendiri
Terkadang, kita sulit melangkah ke depan karena merasa ada hal-hal yang tertinggal di belakang. Oleh karenanya, alih-alih melanjutkan perjalanan, kita kembali melihat ke belakang dan berjalan mundur. Ada hal yang sulit untuk dilupakan, ada hal yang sulit untuk direlakan, ada hal yang tidak mudah untuk begitu saja dimaafkan,
ada hal yang memang sebenarnya belum selesai.
Sedikit bercerita, tahun lalu, 2021, adalah tahun terberat kedua di masa hidupku (terberat setelah aku pernah mengalami bullying di tahun 2008 silam). Aku melalui banyak penolakan, banyak "penipuan mental" dan banyak mengalami kegagalan. Dari mulai struggling mencari pekerjaan sebagai seorang fresh graduate, "ditipu" oleh sebuah perusahaan lokal yang mengatasnamakan "business consultant sehat", culture shock di kantor baru, hingga ditolak beasiswa impian. Rasanya sedih, menyakitkan dan membuat trauma baru.
Aku sempat berpikir, waktu kuliah S1, hidupku baik-baik aja: akademis berjalan dengan baik, organisasi oke, komunitas berjalan stabil, penghasilan cukup dari hasil part-time, betul-betul berada di fase yang "balance" sampai merasa bahwa aku benar-benar beruntung dengan itu semua.
Tapi, seperti badai yang tiba-tiba menghantam tanpa jeda, tepat sebulan-dua bulan setelah aku lulus, semuanya luluh-lantak. Semua "kehidupan tenang dan membanggakan" yang aku miliki seolah-olah, kandas. Untuk kedua kalinya, aku merasa payah, putus asa, tidak berguna, dan itu semua nyaris merenggut kesehatan mentalku.
Malam
Ada semburat rindu, yang ingin kuterbangkan. Menitipkan sedikit hembusan pelan pada angin yang berhembus lembut, pada ranting-ranting yang...
-
Hello, Guys . Maaf baru muncul hari ini nih wkwkwk biasanya kan Sabtu atau Minggu yaaa. Jadi, kemarin-kemarin sempet drop gitu karena capek ...
-
Di sini, kutulis sebuah puisi. Untuk siapa pun yang takut sendiri, bahagia sendiri, tersakiti sendiri. Untuk siapa pun, yang merasa luka lal...
-
Pernahkah kamu bertanya (pada dirimu sendiri), mengapa kamu terlahir ke dunia ini, sebagai dirimu dengan namamu? Biarkan aku menebak... Past...