Sabtu, 20 Agustus 2022

Malam

Ada semburat rindu, yang ingin kuterbangkan.
Menitipkan sedikit hembusan pelan pada angin yang berhembus lembut,
pada ranting-ranting yang bergemerisik lirih,
pada daun-daun kering yang jatuh tanpa suara.
Ada semburat rindu, yang ingin kukisahkan.

Ialah bayangan senyummu yang menerpa mata dalam mimpi.
Menitipkan salam pada matahari yang hampir beranjak tinggi,
pada awan-awan yang menghalangi panas menembus halus dahiku,
pada burung-burung yang bercicit sembari terbang dari hilir ke hulu.
Ialah bayangan senyummu yang tak bisa lepas dalam hati.

Ada semburat sendu, yang ingin kubungkam dalam-dalam.
Menitipkan pesan pada batu yang tenggelam,
pada gema yang tersisa kala hujan,
pada dengung lembah yang menjauh perlahan.
Ada semburat sendu, yang ingin kusisihkan.

Ialah pada malam kalbu nan pilu.
Menitipkan pesan pada bintang kelabu,
pada bulan yang bersembunyi malu,
pada kabut yang menghilangkan biru.
Ialah pada malam yang kuinginkan haru.

Selasa, 02 Agustus 2022

Meredam Lara


Padaku, -mu, kita, yang terlanjur sudah terendam asa, tenggelam rasa. Ia, kecewa.

Ini semua seolah seperti berlari, cepat, tanpa jeda, tanpa koma, namun tak ada titik, tak pernah tiba, ia, garis finish yang tidak bisa dicapai. Ini semua seperti berlari, namun selalu jatuh, perih, berusaha berprasangka, ya, baik, tapi tetap sesak yang meliputi. Pada akhirnya aku, kau, kita, mungkin memilih berjalan, atau diam saja tanpa berkata sepatah kata apalagi seribu bahasa?

Bagiku, pagi yang cerah saja bisa berubah kelabu. Aku yang sudah berharap, menjumpai senyum merekah hari itu, jatuh, terduduk lesu. Menangis? Oh, itu tentu akan dan sudah kulakukan. Seolah tak ingin membuka mata, seolah ingin kembali tidur saja, seolah menyesal lara menghadapi hari yang penuh duka. Aku yang membuatnya duka, atau dia, mereka?

Satu kata.

Kecewa.

Hari indah ini menjadi rasa asing dan aku nyaris membencinya.

Kecewa.

Itu, aku.

Harapan yang sudah kugantungkan, harapan yang telah kunantikan, hanyalah ilusi atau khayalan? Semuanya kandas, hilang dan berbekas. Bekas, kecewa, menghujam dada.

Sudah kukatakan, aku menangis. Kusandarkan akhirnya, bahuku pada sosok yang kunantikan, teman, sahabat, tidak, kurasa keluarga. Aku menangis padanya, sebagai limpahan asa yang berbuah air mata. Kata-katanya menenangkanku, cukup membuatku melupakan apa itu kecewa. Kukatakan padanya, rasa pagi ini membuatku hampir membenci segalanya, semuanya. Rasa kecewa meruntuhkanku, memudarkan senyumku seketika, menghilangkan kata-kata, hanya bersisa air mata sebagai nada bicara.

“Aku kecewa. Aku marah. Salahkah aku?”

Tangisku memecah.

“Tidak. Sama sekali tidak. Kau pantas merasakannya.”

Aku tidak berkata lebih lanjut, tetapi air mataku yang berlaku demikian.
Sesaat, kulupakan semua. Semua kejadian di pagi ini, sungguh mengecewakan. Kubiarkan sedikit pikiranku pergi bersama kata-kata yang perlu kulontarkan di hari ini. Ia terbang akhirnya, bersama secercah senyum dan tawa yang hadir kemudian.
Namun, sore datang. Sore menuju malam. Malam disambut rasa kelam itu lagi. 

Perasaan itu lagi.

Kecewa.

Ia datang lagi, menghilangkan garis senyumku yang tadi terulas. Ia menghilangkannya seketika, menggantikannya dengan sendu yang membara. Aku tak tahu, hanya marah. Bahkan tak tahu, marah pada siapa, diriku, atau dirinya, pendatang bagi si kecewa?

Lagi, aku terduduk. Meringkuk di atas ranjang kamar, menatap lurus, ujung-ujung lemari cokelat di hadapanku. Air mata itu turun lagi, melirih lagi, tapi tak lebih lirih dari batinku yang menjerit. Aku sudah lesu.

Menangislah pada akhirnya. Padahal aku sempat tertawa, bersamanya, sahabat bahagia. Namun, menangis lagi, seperti tak cukup tempat dan belum tepat menghabiskan pilu. Seolah, seolah sesuatu menungguku untuk mengadu.

Pada-Nya.

Aku mengadu pada-Nya.

Di akhir cerita.

Di akhir rasa kecewa.

Kutumpahkan segalanya. Segala yang kurasa.

Sebab aku percaya, Dia mendengarnya.

Aku mengadu pada-Nya, di saat ini, di saat kecewa. Dia tentu menyambutku, sebab malu bagi-Nya, tamu yang datang namun pulang dalam keadaan hampa. Malu bagi-Nya, tak memenuhi apa yang aku pinta.

Dia, Sang Pencipta segalanya,

yang menciptakan rasa,

yang menciptakan kecewa,

namun tak pernah mengecewakan.

Minggu, 05 Juni 2022

Ketika Kamu Belum Selesai Dengan Dirimu Sendiri

Terkadang, kita sulit melangkah ke depan karena merasa ada hal-hal yang tertinggal di belakang. Oleh karenanya, alih-alih melanjutkan perjalanan, kita kembali melihat ke belakang dan berjalan mundur. Ada hal yang sulit untuk dilupakan, ada hal yang sulit untuk direlakan, ada hal yang tidak mudah untuk begitu saja dimaafkan,

ada hal yang memang sebenarnya belum selesai.

Sedikit bercerita, tahun lalu, 2021, adalah tahun terberat kedua di masa hidupku (terberat setelah aku pernah mengalami bullying di tahun 2008 silam). Aku melalui banyak penolakan, banyak "penipuan mental" dan banyak mengalami kegagalan. Dari mulai struggling mencari pekerjaan sebagai seorang fresh graduate, "ditipu" oleh sebuah perusahaan lokal yang mengatasnamakan "business consultant sehat", culture shock di kantor baru, hingga ditolak beasiswa impian. Rasanya sedih, menyakitkan dan membuat trauma baru.

Aku sempat berpikir, waktu kuliah S1, hidupku baik-baik aja: akademis berjalan dengan baik, organisasi oke, komunitas berjalan stabil, penghasilan cukup dari hasil part-time, betul-betul berada di fase yang "balance" sampai merasa bahwa aku benar-benar beruntung dengan itu semua.

Tapi, seperti badai yang tiba-tiba menghantam tanpa jeda, tepat sebulan-dua bulan setelah aku lulus, semuanya luluh-lantak. Semua "kehidupan tenang dan membanggakan" yang aku miliki seolah-olah, kandas. Untuk kedua kalinya, aku merasa payah, putus asa, tidak berguna, dan itu semua nyaris merenggut kesehatan mentalku.

Malam

Ada semburat rindu, yang ingin kuterbangkan. Menitipkan sedikit hembusan pelan pada angin yang berhembus lembut, pada ranting-ranting yang...