Senin, 28 Februari 2022

Apa Aku Cantik?

Hello, Guys. Maaf baru muncul hari ini nih wkwkwk biasanya kan Sabtu atau Minggu yaaa. Jadi, kemarin-kemarin sempet drop gitu karena capek banget sih ngejar target sana-sini hahaha. But, alhamdulillah, I'm really fine now. Semoga temen-temen Pena Azri juga sehat-sehat selalu yaaa, aamiin...

Oh iyaa, sebenernya ini tulisan lama, tapi pengen aku up lagi karena belakangan ini, aku sering mempertanyakan ke diri sendiri, "Aku tuh cantik gak, sih?" 😂😂 Ya mungkin ada juga dari kalian yang suka nanya-nanya begini nih haha. Tapi, wajar nggak, sih? Alias lebay nggak, sih? No, it's normal. Cowok2 yang juga ngalamin "beauty crisis" kayak gini pun wajar banget karena ini semua ada kaitannya dengan hubungan kita dengan manusia lainnya. Iya, nggak? Yakni, masalah identitas dan eksistensi diri. Manusia itu secara hakiki punya keinginan untuk diakui eksistensi dirinya, termasuk salah satunya adalah dari "the way you look at me" (kayak lagunya Christian Bautista wkwkwk). Nah, biar makin jelas, boleh baca artikelku di bawah ya.


The "Hyperreality" of Beauty

Menjadi “cantik” adalah dambaan setiap perempuan (tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa kata "cantik" juga disematkan pada laki-laki, termasuk dalam penggunaan istilah yang berbeda, yaitu "tampan/ganteng"—yang masih merujuk pada istilah "beauty"). Ya, setiap perempuan, tak terkecuali (setidaknya, ini yang bisa penulis simpulkan dari naluri penulis sendiri sebagai seorang perempuan). Mengapa perlu ditulis dengan tanda kutip—kata “cantik”—adalah karena pengertian dari kata “cantik” itu sendiri sangatlah beragam. Cantik adalah sebuah konsep abstrak yang dengan interpretasi amat terbuka, setiap orang bisa mengartikan kata tersebut sesuai dengan “pemahamannya” sendiri. Oleh karenanya, pengertian dari kata “cantik” adalah makna yang begitu mendalam, sejatinya bukanlah konsep yang dapat diartikan begitu saja secara literal, dan inilah yang ingin penulis angkat di dalam tulisan ini.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, cantik berarti elok; molek (tentang wajah, muka perempuan); indah dalam bentuk dan buatannya. Terlihat sekali pengertian kata “cantik” ini merupakan hal yang berkaitan dengan persepsi dan pengalaman empiris. Cantik selalu dikaitkan dengan rupa, direduksi “sedemikian” sempit sebagai segala sesuatu yang tampak dari luar saja. Penulis sendiri merasa pengertian cantik terlalu disimplifikasi secara arbitrer, bukan berarti dalam hal ini adanya ketidaksetujuan terhadap pengertian cantik sebagai ikatan rupa, tetapi sebaiknya kita memahami cantik dan term kecantikan itu lebih dalam dari sekadar pengamatan inderawi.

Namun demikian, agak sulit, terutama bagi masyarakat kita atau bahkan masyarakat dunia untuk memahami apa itu cantik tanpa mengaitkannya dengan penampakan luar. Apalagi, kita pun telah mengetahui bahwa perempuan-perempuan saling berlomba-lomba untuk tampil cantik (dalam artian enak dipandang orang), tampil mempesona di hadapan semua orang. Karenanya, cantik menjadi sesuatu yang begitu sempit dipandang, sempit dimaknai sebagai keindahan dari luar, bahkan ironisnya, bagian dalam diri seseorang yang sejati, seperti tingkah laku, emosional, sifat, kepribadian, dan lain semacamnya diabaikan, teralienasi, dan tertutupi oleh bayang-bayang pengertian cantik yang melulu tentang wajah yang putih bersih tanpa jerawat, hingga tubuh tinggi menjulang, dan langsing atau berat badan proporsional (sehingga banyak perempuan yang berusaha menurunkan berat badan secara mati-matian hanya untuk memenuhi “standar” kecantikan semacam ini). Lantas, apa yang sebenarnya menyebabkan kita terlalu sibuk mengurusi cantik “di luar”? Apa yang membuat perempuan sangat aware terhadap penampilan? Memang akan lebih baik dan sangat baik tentunya untuk membuat keseimbangan antara rupa dan non-rupa, antara apa yang tampak (fisik) dan apa yang tidak tampak (batin). Akan tetapi, pada faktanya, banyak perempuan (tidak semua perempuan, mungkin, penulis ingin menekankan demikian) yang terlalu mengagungkan “pandangan mata” daripada melihat hal yang lebih dalam dari “penglihatan”. Hal yang membuat semua asumsi cantik hanya diukur dari ukuran fisik dan juga asumsi-asumsi tentang standar kecantikan adalah karena adanya bias-bias kognitif yang secara deskriptif memang sudah mendarah daging. Pada hakikatnya, perempuan memang ingin dilihat, perempuan memang ingin diperhatikan (terlebih menjadi pusat perhatian), perempuan ingin dianggap dirinya cantik, ingin dipuji karena kecantikan dirinya. Pun, meminjam dari pemikiran Jean Baudrillard, seorang filsuf kontemporer, adanya bias-bias ini juga diperkuat oleh iklan-iklan produk kecantikan yang terus-menerus digaungkan. Bahwa kecantikan itu “haruslah” dengan berkulit putih, mulus, tidak berjerawat, bertubuh tinggi, langsing, rambut hitam panjang dan lurus sempurna, dan lain sebagainya. Standar kecantikan terus digaungkan sedemikian rupa melalui iklan-iklan yang memacu dan menimbulkan hiperealitas bagi diri perempuan khususnya, secara tidak wajar. Standar kecantikan yang dimunculkan oleh iklan-iklan tersebut membuat kita berjarak dengan realitas kita yang sesungguhnya, sehingga pengertian cantik itu direduksi sedemikian sempit, kita bahkan teralienasi oleh diri kita sendiri.


Adalah hal yang tidak salah sebenarnya untuk merawat diri, membenahi diri sendiri dalam arti ingin tampil cantik di hadapan orang lain. Namun, perlu digarisbawahi tujuan dari kecantikan itu sendiri adalah untuk apa dan ditujukan kepada siapa. Toh, Allah sebagai Tuhan yang menganugerahkan kecantikan rupa kepada setiap perempuan tidak melarang kita untuk menjaga kecantikan tersebut, tetapi justru kita yang “salah koridor” dalam “mensyukuri” anugerah yang telah diberikan-Nya tersebut. Bukankah Dia telah mengatakan bahwa iman dan takwa adalah ukuran “kecantikan” yang hakiki? Apa esensi mepercantik diri dari luar sementara dari dalam diri sendiri terbengkalai? Apakah hakikat cantik itu hanyalah ukuran pandangan mata? Seharusnya, tidaklah demikian. Bilamana kita hanya mengukur cinta melalui rupa yang indah dan menawan, lantas bagaimana kita dapat mencintai Allah yang tidak ber-rupa? Yang dimaksud dengan The Beauty tidaklah cukup dinilai dari ukuran duniawi. Demikian karena kecantikan duniawi dan segala sesuatu yang ada di dunia ini sama sekali tidak abadi. Semuanya akan kembali pada-Nya, lantas apa yang membuat kita terus diiming-imingi? Dunia ini penuh sekali dengan hiperealitas, membuat kita berjarak dengan realita diri kita sendiri, hingga kita mengukur “cantik” hanya dengan batas rupa. Padahal jelas, tidak bisa selalu demikian. Kita akan terus berjarak dengan diri kita sendiri jikalau terus begini, bahkan hingga lupa bagaimana untuk menerima diri kita ini apa adanya. Perlu diingat bahwa tidak ada keabadian untuk fisik, maka sewajarnya saja kita berbenah diri pada koridor yang tepat. Bukan hal yang salah untuk membuat diri kita indah, tetapi yang keliru adalah kepada siapa dan untuk siapa diri kita ini harus indah. Dan yang terpenting adalah iman dan takwa adalah sebaik-baiknya kecantikan yang nyata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Malam

Ada semburat rindu, yang ingin kuterbangkan. Menitipkan sedikit hembusan pelan pada angin yang berhembus lembut, pada ranting-ranting yang...