Sebelumnya, aku mau disclaimer dulu mengenai semua tulisan yang aku tuangkan di blog Pena Azri ini. I don't act like a motivator, because I'm not. Tapi, kalau teman-teman ingin menganggap tulisan-tulisan ini memotivasi dan menginspirasi, silakan. I'm very happy about that 😄 Apa yang aku tulis di sini adalah bentuk pengalaman-pengalaman yang pernah aku dapatkan di dalam hidupku sendiri, atau orang-orang di sekitarku, hingga pengetahuan yang aku punya atas apa yang aku pelajari selama kuliah hingga hari ini. So, I hope you guys can enjoy my writings, and feel free to give any comments and feedbacks.
Aku mau bertanya satu hal ke kalian semua, apa kalian bahagia?
Jangan langsung buru-buru di jawab, Guys, haha. Coba renungkan dulu aja, gapapa. Tapi, aku yakin, beberapa dari kalian ragu untuk menjawabnya. Is that normal? Yes, it is.
Ketika kalian ditanya, "Kamu bahagia nggak, sih? Kebahagiaan kamu apa? Apa yang membuat kamu bahagia?" biasanya, apa yang langsung ada di benak kalian?
Mungkin, ada orang yang langsung berpikir bahwa hidup mapan, terpenuhi semua kecukupan fisik dan batin, mendapatkan ketenangan, hidup tanpa beban, adalah definisi-definisi dari kebahagiaan. Tapi sebenernya, apa sih kebahagiaan itu? Apa kita bisa dapat kebahagiaan di dalam hidup kita? Gimana cara mencarinya?
Wow, wow, oke, pertanyaannya jadi panjang, nih, haha. Tapi.... Sebelum kita mencoba untuk mengatakan bahwa kita bahagia, apalagi bertanya, "Gimana cara mencari kebahagiaan dalam hidup?" Seperti yang aku bilang tadi, let's do contemplating to yourselves.
Coba deh, kalian bayangkan hidup kalian setiap hari. Mulai dari bangun tidur, mandi, sarapan, berangkat ke kantor atau kuliah (walaupun sekarang-sekarang masih online sih ya, tapi anggap aja itu berangkat lah 😂), makan siang, rebahan, nonton Net*lix, sampe kalian tidur lagi. Ada nggak sih, tujuan dari tindakan-tindakan yang kita lakukan setiap hari itu?
Let me guess, pasti ada yang jawab, "Ya, kerja tujuannya buat cari uang, lah", "Kuliah tujuannya biar lulus, dapet kerja, deh", atau "Nonton drama Korea sambil ngemil tujuannya buat menghibur diri."
Oke, dari sini, kita bisa tau, kan, kalau kita melakukan sebuah tindakan karena kita berpendapat bahwa tindakan-tindakan tersebut memiliki tujuan yang baik atau bernilai. Kalau kita nggak berpikir di dalam kerangka itu, bisa jadi, tindakan-tindakan yang aku, kalian lakuin setiap hari itu merupakan "totalitas" lingkaran setan semata!
Salah satu filsuf yang berpikir mengenai etika kebahagiaan ini adalah Aristoteles. Kalau yang belum kenal siapa dia, boleh baca-baca dulu biografinya di website-website tetangga ya, hehe. Jadi, Aris mengatakan bahwa Ada satu tujuan dari semua tindakan yang mengarahkan kita pada tindakan-tindakan kita sehari-hari tadi. Nah, tujuan itu sama adanya pada setiap orang, yaitu yang disebut sebagai kebahagiaan (happiness/eudaimonia). Itulah sebabnya, kebahagiaan merupakan kebaikan bagi manusia.
Tapi sayangnya, kebahagiaan yang diusung si Aris itu sangat elitis, Guys. Maksudnya gimana, tuh?
Jadi, kita bisa bahagia kalau kita:
- Memiliki teman-teman yang baik.
- Memiliki kekayaan.
- Memiliki kekuatan politik.
- Memiliki latar belakang yang baik.
- Memiliki anak yang baik dan berwajah rupawan (otw ngaca sekarang juga wkwkwk)
- Yang terakhir dan amat sangat relate dengan kehidupan kita sebagai pencari cuan adalah, bagi Aris, kalau kita mau bahagia, harus bebas dari keharusan untuk bekerja keras (mungkin ini cuma berlaku buat anak para crazy rich kali ya 😔)
Kalau dilihat dari poin-poinnya si Aris, kalian udah bahagia, belum? 😂 Kalo aku sih, gimana ya aku bisa jawabnya :(
Nah, oleh karenanya, sama seperti berbagai teori filsuf lainnya, teorinya Aristoteles ini juga memiliki kekurangan dan akan baik apabila kita menghapus bias elitisnya.
Tapi, inti dari yang mau Aristoteles katakan adalah kebahagiaan itu didapat dari hidup yang baik atau selaras dengan kebajikan (virtue atau arete dalam bahasa Yunani). Ada dua kebajikan, yakni kebajikan intelektual dan kebajikan moral. Kebijakan intelektual didapatkan dari kombinasi antara turunan dan pendidikan (kalo kombinasi coklat dan keju itu martabak spesial ya, tambah wijen jadi martabak bangka heheheh). Kebajikan intelektual ini memiliki kaitan dengan kebijaksanaan praktis dan pemikiran yang dibutuhkan dalam rangka membuat putusan-putusan yang selaras dengan pemahaman seseorang akan hidup yang baik. Dan, akhirnya kita tahu bahwa kebajikan ini berhubungan dengan kebajikan moral, di mana kebajikan moral adalah bentuk praktik dari hal-hal yang telah kita tarik dari kebijaksanaan pemikiran.
Oke, gapapa ya, kita berfilsafat sebentar haha. In short, aku mau tanya lagi, nih? Apakah dengan dua hal di atas, kita udah bisa dibilang bahagia? Maksudnya, dengan pendidikan yang baik yang menuntun kita untuk melakukan hal baik, sejatinya apakah sudah cukup mengantarkan kita pada tujuan tertinggi, kebahagiaan?
Kita tau bahwa banyak orang yang masih menyamakan kesuksesan dengan kebahagiaan. Kalo orang sukses, ya berarti dia bahagia. Tapi, kita kan nggak bisa sepenuhnya bilang, orang yang bahagia pasti sukses, kan? Bukan cuma aku, mungkin juga kamu, sering melihat di manapun itu, ada orang yang sukses berat, tapi dia masih gelisah, mencari ketenangan sana-sini, dan semacamnya. Ada orang yang juga hidupnya zuhud banget (sederhana banget gitu maksudnya), tapi dia bahagia. Dia happy, enjoy. Coba, kenapa?
Balik lagi sama dua poin kebajikan tadi, dua kebajikan itu bukan yang paling tinggi di dalam kehidupan ini. Akan tetapi, kebajikan filosofis adalah kebajikan yang paling tinggi. Kenapa demikian? Kebajikan filosofis mengantarkan manusia pada kehidupan yang kontemplatif, perenungan, bukan hal-hal yang sifatnya material. Karena kebahagiaan itu sesungguhnya abstrak dan sempurna, sementara hal-hal material atau monistik sifatnya tidak sempurna. Bagaimana kita bisa sepenuhnya mengharapkan kesempurnaan dari ketidaksempurnaan?
Itulah kenapa tadi, aku bilang ke kalian di awal, untuk merenungi dulu sebelum menjawab pertanyaan, "Apa kamu bahagia?"
So, how can I find happiness in my life?
Coba renungkan. Renungkan hidup kamu.
Tujuan hidup adalah mencapai kebahagiaan. Dan hidup yang baik adalah hidup yang direnungkan. Hidup yang tidak diuji dan tidak dipertanyakan tidak pantas untuk dihayati.
Mungkin, kebahagiaan yang kamu cari adalah ketika kamu merenungkan hidup kamu. Dia nyata adanya, tetapi tidak dapat disentuh. Mampu kamu rasakan, tetapi butuh waktu untuk merengkuhnya.
Coba renungkan.
Barangkali di dalam renunganmu atas kehidupan yang kamu jalani, kebahagiaan itu sudah dekat, tetapi begitu saja kau lewati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar