Padaku, -mu, kita, yang terlanjur sudah terendam asa, tenggelam
rasa. Ia, kecewa.
Ini semua seolah seperti berlari, cepat, tanpa jeda, tanpa koma,
namun tak ada titik, tak pernah tiba, ia, garis finish yang tidak bisa dicapai.
Ini semua seperti berlari, namun selalu jatuh, perih, berusaha berprasangka,
ya, baik, tapi tetap sesak yang meliputi. Pada akhirnya aku, kau, kita, mungkin
memilih berjalan, atau diam saja tanpa berkata sepatah kata apalagi seribu
bahasa?
Bagiku, pagi yang cerah saja bisa berubah kelabu. Aku yang sudah
berharap, menjumpai senyum merekah hari itu, jatuh, terduduk lesu. Menangis?
Oh, itu tentu akan dan sudah kulakukan. Seolah tak ingin membuka mata, seolah
ingin kembali tidur saja, seolah menyesal lara menghadapi hari yang penuh duka.
Aku yang membuatnya duka, atau dia, mereka?
Satu kata.
Kecewa.
Hari indah ini menjadi rasa asing dan aku nyaris membencinya.
Kecewa.
Itu, aku.
Harapan yang sudah kugantungkan, harapan yang telah kunantikan,
hanyalah ilusi atau khayalan? Semuanya kandas, hilang dan berbekas. Bekas,
kecewa, menghujam dada.
Sudah kukatakan, aku menangis. Kusandarkan akhirnya, bahuku pada
sosok yang kunantikan, teman, sahabat, tidak, kurasa keluarga. Aku menangis
padanya, sebagai limpahan asa yang berbuah air mata. Kata-katanya
menenangkanku, cukup membuatku melupakan apa itu kecewa. Kukatakan padanya,
rasa pagi ini membuatku hampir membenci segalanya, semuanya. Rasa kecewa
meruntuhkanku, memudarkan senyumku seketika, menghilangkan kata-kata, hanya
bersisa air mata sebagai nada bicara.
“Aku kecewa. Aku marah. Salahkah aku?”
Tangisku memecah.
“Tidak. Sama sekali tidak. Kau pantas merasakannya.”
Aku tidak berkata lebih lanjut, tetapi air mataku yang berlaku
demikian.
Sesaat, kulupakan semua. Semua kejadian di pagi ini, sungguh mengecewakan.
Kubiarkan sedikit pikiranku pergi bersama kata-kata yang perlu kulontarkan di
hari ini. Ia terbang akhirnya, bersama secercah senyum dan tawa yang hadir
kemudian.
Namun, sore datang. Sore menuju malam. Malam disambut rasa kelam
itu lagi.
Perasaan itu lagi.
Kecewa.
Ia datang lagi, menghilangkan garis senyumku yang tadi terulas.
Ia menghilangkannya seketika, menggantikannya dengan sendu yang membara. Aku
tak tahu, hanya marah. Bahkan tak tahu, marah pada siapa, diriku, atau dirinya,
pendatang bagi si kecewa?
Lagi, aku terduduk. Meringkuk di atas ranjang kamar, menatap
lurus, ujung-ujung lemari cokelat di hadapanku. Air mata itu turun lagi, melirih
lagi, tapi tak lebih lirih dari batinku yang menjerit. Aku sudah lesu.
Menangislah pada akhirnya. Padahal aku sempat tertawa,
bersamanya, sahabat bahagia. Namun, menangis lagi, seperti tak cukup tempat dan
belum tepat menghabiskan pilu. Seolah, seolah sesuatu menungguku untuk mengadu.
Pada-Nya.
Aku mengadu pada-Nya.
Di akhir cerita.
Di akhir rasa kecewa.
Kutumpahkan segalanya. Segala yang kurasa.
Sebab aku percaya, Dia mendengarnya.
Aku mengadu pada-Nya, di saat ini, di saat kecewa. Dia tentu
menyambutku, sebab malu bagi-Nya, tamu yang datang namun pulang dalam keadaan
hampa. Malu bagi-Nya, tak memenuhi apa yang aku pinta.
Dia, Sang Pencipta segalanya,
yang menciptakan rasa,
yang menciptakan kecewa,
namun tak pernah mengecewakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar