Minggu, 05 Juni 2022

Ketika Kamu Belum Selesai Dengan Dirimu Sendiri

Terkadang, kita sulit melangkah ke depan karena merasa ada hal-hal yang tertinggal di belakang. Oleh karenanya, alih-alih melanjutkan perjalanan, kita kembali melihat ke belakang dan berjalan mundur. Ada hal yang sulit untuk dilupakan, ada hal yang sulit untuk direlakan, ada hal yang tidak mudah untuk begitu saja dimaafkan,

ada hal yang memang sebenarnya belum selesai.

Sedikit bercerita, tahun lalu, 2021, adalah tahun terberat kedua di masa hidupku (terberat setelah aku pernah mengalami bullying di tahun 2008 silam). Aku melalui banyak penolakan, banyak "penipuan mental" dan banyak mengalami kegagalan. Dari mulai struggling mencari pekerjaan sebagai seorang fresh graduate, "ditipu" oleh sebuah perusahaan lokal yang mengatasnamakan "business consultant sehat", culture shock di kantor baru, hingga ditolak beasiswa impian. Rasanya sedih, menyakitkan dan membuat trauma baru.

Aku sempat berpikir, waktu kuliah S1, hidupku baik-baik aja: akademis berjalan dengan baik, organisasi oke, komunitas berjalan stabil, penghasilan cukup dari hasil part-time, betul-betul berada di fase yang "balance" sampai merasa bahwa aku benar-benar beruntung dengan itu semua.

Tapi, seperti badai yang tiba-tiba menghantam tanpa jeda, tepat sebulan-dua bulan setelah aku lulus, semuanya luluh-lantak. Semua "kehidupan tenang dan membanggakan" yang aku miliki seolah-olah, kandas. Untuk kedua kalinya, aku merasa payah, putus asa, tidak berguna, dan itu semua nyaris merenggut kesehatan mentalku.

Hanya karena takut orang lain menganggap diri kita mudah goyah, kita selalu terpaksa hadir dengan senyum dan tawa. Tetap menebarkan semangat walaupun sebenarnya dunia mulai runtuh bagian per bagian. Selalu menampilkan sisi kuat kendati nyeri dada melesak keluar. Untuk menangis sebenarnya sudah benar-benar siap, tetapi semesta seakan tidak memberi ruang dan masa. Akhirnya, semua harus disembunyikan, sendiri, lagi.

Sebenarnya bukan hanya karena takut akan anggapan orang lain, melainkan juga "apa pentingnya menunjukkan itu kepada orang lain?" Orang lain tidak akan mengerti, orang lain tidak akan merasakan apa yang kita rasakan. Orang lain tuh, nggak akan paham.

Padahal, sebenarnya, jika kita menilik dan merenungkan lebih dalam lagi, hal yang kita butuhkan adalah cukup didengarkan. Kita hanya perlu didengarkan, kita memerlukan tempat untuk bercerita, tempat untuk melepaskan, tempat bersandar.

Namun, logika kita berkecamuk. Ini masalahku, aku mampu menyelesaikannya sendiri.

Hari-hari menjadi terasa berat. Hari-hari menjadi terasa lelah dan gundah untuk dilalui. Seperti ada yang mengganjal, seperti kehilangan harapan, kehilangan semangat. Langkah baru terasa tidak nyata, hari esok layaknya ilusi.

Dan itu, karena kita belum selesai dengan diri sendiri.

Entah karena enggan menyelesaikannya atau memang tidak perlu ada yang diselesaikan. Seakan kita perlu menghukum diri kita sendiri, memberikan sanksi atas "rendahnya diri".

Apakah "menyelesaikan" selalu berarti kembali menoleh dan berjalan ke belakang? Apakah "menyelesaikan" selalu berarti kembali terikat dengan hal-hal di masa lalu?

Bagiku, selesai dengan diri sendiri lebih kepada memaafkan. Memaafkan apa yang telah terjadi, apa yang telah aku lakukan, apa yang telah dilalui. Memang tidak mudah untuk belajar mencintai diri sendiri seutuhnya, bahkan memulai untuk percaya pada diri membutuhkan proses. Akan tetapi, bukankah hidup memang tentang perjalanan dari sebuah proses?

Percaya, memaafkan, dan mencintai diri memang tidak mudah. Namun, belajar untuk melakukannya membuat semuanya menjadi mudah. Ketika kamu mengatakan bahwa sedih lebih mudah dilakukan dan dirasakan dibandingkan bahagia, itu karena kamu berpikir bahwa kamu bisa merasa sedih. Lantas, bukannya kita bisa berpikir yang sama atas bahagia? Bahagia akan lebih mudah dilakukan dan dirasakan dibandingkan sedih, itu karena kita berpikir bahwa kita bisa merasa bahagia. 

Ketika kamu belum selesai dengan dirimu sendiri, kecemasan yang tak berobjek itu akan terus menghantui hari-harimu yang berharga setiap detiknya, merenggut helaian napasmu yang berharga setiap waktunya. Menghambat mimpi-mimpimu, harapan-harapanmu, yang memesona pada saatnya.

Lantas, apa yang harus dilakukan ketika kamu belum selesai dengan dirimu sendiri?

Selesaikan.

Terima, maafkan, biarkan hal-hal itu berada di belakang.

Masa lalu tidak akan pernah mengalahkanmu karena ia selalu berada di belakang. Ia tidak akan pernah menang.

Apakah harus dilupakan?

Sayangnya, hidup lebih sering mengajarkan kita untuk mengingat, bukan untuk melupakan. Jadikan hal-hal yang ada di masa lalumu, hal-hal yang akan dan telah kamu selesaikan sebagai pintu gerbang menuju hari-hari yang lebih baik. Sebagai sebuah apresiasi terbaik yang kamu berikan untuk dirimu karena telah mampu berjalan sejauh itu. Sebuah perjalanan yang memukau.

Sebuah perjalanan yang mengharukan.

Bertarunglah untuk sebuah kebahagiaan.

Insekyur adalah salah satu bentuk "penghalang" dalam menyelesaikan hal-hal yang belum terselesaikan di masa lalu. Untuk menghadapinya, kamu bisa mencoba beberapa hal yang ada di tulisan ini.

Cara Menghadapi Rasa Insekyur

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Malam

Ada semburat rindu, yang ingin kuterbangkan. Menitipkan sedikit hembusan pelan pada angin yang berhembus lembut, pada ranting-ranting yang...