Minggu, 10 April 2022

How to Deal with Your Insecurity

Seringkali kita merasa bahwa hidup ini nggak adil. Entah secara menyeluruh, atau sebagian. Tapi yang jelas, kita ingin apa yang sedang berjalan di dalam hidup haruslah sesuai dengan harapan. Apa pun bentuknya. Mungkin pendidikan kita, karir, percintaan, kesehatan, dan hal lainnya yang sebenarnya bisa saja kita ekspektasikan terlalu tinggi.

Namun, satu pertanyaan yang selalu muncul di dalam benakku ketika aku merasa kecewa dengan apa yang terjadi (salah satunya mungkin doa-doa yang belum terkabulkan), apakah hidup yang tidak pernah memihakku, atau aku yang justru memilih untuk tidak memihak hidup yang serba tidak sempurna ini? Bagaimana mungkin aku mengharapkan kesempurnaan kepada kehidupan di dunia yang tidak sempurna? Bukankah itu egois namanya?

Rasa kecewa yang kita alami tidak jarang menumbuhkan rasa insekyur yang akhirnya berdampak pada keengganan untuk mencintai diri sendiri. Bukan berarti aku menulis ini, lantas aku merasa telah sepenuhnya mencintai diriku. Bukan. Aku masih terus belajar untuk mencintai diriku, dan pelajaran ini adalah pelajaran seumur hidup. Pelajaran untuk menjemput kebahagiaan.

Perasaan insekyur atau yang lebih umum diartikan sebagai perasaan tidak percaya diri, takut, malu, akibat rendahnya kita dalam menilai diri, cenderung terjadi karena terlalu memaksanya kita pada kesempurnaan hidup. Padahal, seperti yang tadi kukatakan, hidup itu penuh dengan ketidaksempurnaan. Bagaimana aku, kamu, kita semua mengharapkan hidup tanpa cacat jika kehidupan itu sendiri menjadi berwarna dan penuh tantangan dengan adanya "kecacatan"? Coba kita bayangkan hidup yang perfect di dalam bayangan kita, tanpa celah sama sekali, mungkinkah perjalanan hidup kita akan bermakna?

Di sini ada beberapa hal yang bisa aku tuliskan untuk, setidaknya, meredam rasa insecure yang kita alami. Mungkin beberapa poin di bawah ini memang tidak baku, tetapi aku harap bisa cukup membantu untuk kalian yang dilanda perasaan rendah diri atau kurang dalam mencintai diri.

1. Bandingkanlah dirimu (yang sekarang) dengan dirimu yang lalu, alih-alih dengan orang lain.

Aku yakin, banyak di antara kamu yang merasa bahwa poin pertama ini sangat klise. Yes, it is. Tapi, kalian harus tahu bahwa memang benar kita nggak bisa membandingkan hidup kita, baik itu sepenuhnya ataupun sebagian, dengan orang lain. Jalan kita dengan orang lain itu berbeda. Bahkan pasti your ways and mines to deal with insecurity are different. Sesimpel cara kita makan, cara kita berbicara, cara kita melihat atau menyukai sesuatu, berbeda. Bagaimana mungkin kita menyamakan jalan hidup kita dengan orang lain?

Kalau boleh jujur, aku baru belajar membandingkan diriku dengan diriku yang lalu, beberapa bulan belakangan ini. Aku melihat bahwa diriku berkembang, walaupun sedikit demi sedikit. Contohnya, aku mulai sadar tentang manajemen waktu yang baik, manajemen keuangan yang baik (walaupun masih suka membeli sesuatu yang nggak aku butuhkan 😅, tetapi sudah bisa dikurangi), hingga hal-hal menahan amarah, dan berpikir lebih jernih sebelum bertindak.

Membandingkan diri itu perlu menurutku. Bukan membuat kita semakin merendahkan diri, tetapi justru sebuah bentuk perjalanan menyenangkan untuk memperbaiki diri. So, don't be scared. Kamu nggak pernah sendirian mengalami insekyur. Ribuan orang di luar sana mengalami hal yang sama dan rasa ini tidak terbatas pada siapa pun. Bahkan, orang yang kita anggap hidupnya baik-baik saja, dia bisa mengalami insecurity.

Oleh karena itu, coba kamu renungkan, hal-hal yang sudah kamu lewati sampai di titik ini. Pasti itu bukan perjalanan yang mudah, but you did it and it's so amazing! Kamu nggak sadar bahwa kamu sudah sampai di sebuah tempat yang dulu mungkin sulit untuk kamu bayangkan. Kadang, kita perlu kembali melihat masa lalu untuk menghidupkan masa depan kita. You'll see it by yourself, I believe it.

2. Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri.

Jangan pernah terlalu keras pada dirimu sendiri, dan jangan pernah memaksa diri untuk melakukan apa yang tidak bisa dilakukannya. Ibarat balon yang kamu isi dengan udara melebihi kapasitasnya. Apa yang terjadi? Iya, balon itu pecah. Ia rusak, bahkan nggak bisa dipakai lagi.

Kita harus menyadari seberapa besar kapasitas diri kita, seberapa sanggup kita, dan apa hal yang sebenarnya bisa kita lakukan. Kita nggak pernah dipaksa oleh siapa pun untuk melakukan hal yang kita nggak bisa lakukan. Kita yang membuat diri kita melakukan apa yang sebenarnya di luar kemampuan diri kita. Kamu ingin melakukan ini, melakukan itu, padahal kamu tahu bahwa dirimu tidak ada di sana. Di sana bukan tempat untuk dirimu. Idealis? Iya, memang. Tapi jika hidup ini terlalu realitis, atau tidak adanya keseimbangan antara idealis dan realistis, hidup tidak akan berjalan dengan baik.

Ini sama seperti ketika kita mencintai seseorang. Kita terlalu mencintai orang itu hingga hati kita terlalu penuh olehnya, dan saat orang itu menyakiti kita, hati kita hancur dan semua kepingan hati itu dibawa oleh dia, sampai kita nggak bisa memperbaiki apa yang seharusnya kita perbaiki. It really hurts. 

Atau sesimpel ketika orang bertanya, "Lebih baik bekerja dengan banyak tekanan tapi gaji besar atau bekerja sesuai passion tapi gaji biasa-biasa aja (bahkan cenderung kecil)?"

Coba kamu jawab yang jujur. Kamu pilih yang mana? Karena pilihan kamu cukup membuktikan seberapa besar kamu mencintai dirimu.

Aku nggak bilang mereka yang bekerja dengan banyak tekanan tapi gaji besar berarti tidak mencintai dirinya sendiri, dan aku juga nggak bilang bekerja sesuai passion tapi gaji biasa-biasa aja berarti mencintai diri. Yang aku mau bilang adalah apa yang kamu pilih adalah how you treat yourself and life. Pada intinya, apa pun yang kita pilih, seharusnya tidak menjadi beban untuk diri kita. Jika bekerja di bawah pressure memberikan semangat lebih untuk dirimu, lakukanlah. Jika justru malah membuatmu stres, demotivated, coba pikir-pikir lagi. Juga, jika bekerja sesuai passion justru bukan jalan bahagiamu, tidak usah kamu paksa untuk dilakukan. Toh, kamu bisa menjadikan hal itu sebagai sekadar hobi untuk meredakan kebosanan, mengisi waktu luang, dan tetap produktif, misalnya.

Do what you love and what you really want to do.

3. You are more than what you think.

Kamu lebih hebat dari yang kamu pikir.

Kamu lebih kuat dari yang kamu pikir.

Kamu lebih baik dari yang kamu pikir.

Semua adalah tentang mind-set. Kita bukannya lebih payah dari orang lain. Tapi karena memang kita bukan mereka, dan kita nggak pernah mungkin jadi mereka. Kita berbeda dengan orang lain. Sebaliknya, orang lain juga pasti nggak bisa menjalani hidup kita. Orang lain pasti nggak mampu ada di sisi kita. You're really strong of what you think, you just haven't realised it yet.

Kamu pernah berdebat atau mungkin mendengar orang berdebat kayak gini:

"Coba lo jadi gue, sanggup nggak?"

Pernah?

Kalimat itu justru menunjukkan betapa kuatnya kita, betapa hebatnya kita menjalani hidup kita sendiri. Kita hanya butuh mind-set yang sehat untuk membangun hidup yang sehat dan bahagia. Bukan sempurna, ya. Karena hidup yang sempurna itu nggak akan pernah ada. Yang ada, hidup yang bermakna. Dengan segala ketidaksempurnaan yang kita terima, yang kita akui, kita mendapat makna.

4. Fokus pada hal-hal yang kamu suka dan bisa kamu kembangkan.

Masa muda itu memang dipenuhi dengan berbagai macam bentuk ide. Dari yang sederhana sampai yang liar sekalipun. Kita mau membuat ini, membuat itu, melakukan ini, melakukan itu, buka usaha sekaligus berinvestasi, lanjut kuliah master sekaligus ngembangin komunitas dan buka usaha, dan hal lainnya yang kayaknya sayang kalau nggak kita lakukan sekarang.

Tapi ini balik lagi tentang kesanggupan dan self-egoistic kita. Apa kita nggak terlalu memaksa diri terlalu jauh? Kita selalu memikirkan hak-hak yang ego kita harus penuhi, tapi apa kita memikirkan hak diri kita, physically and mentally?

Pelan-pelan aja. Kamu nggak akan pernah ketinggalan dengan orang lain kalau kamu nggak melakukan semua ide-ide kamu. Hei, hidup ini bukan siapa yang cepat dia yang menang, bukan tentang siapa yang hebat dia yang berkuasa. Hidup ini bukan perlombaan and I am really sure that you literally know that.

Fokus dengan apa yang bisa kamu lakukan. Nggak usah dari hal-hal yang besar dulu, pelan-pelan mulai dari hal yang kecil. Contohnya, fokus bangun pagi, tidak menunda-nunda dalam mengerjakan sesuatu, mungkin jalan pagi setiap hari at least selama 30 menit aja. Dan, kamu bisa lihat apa yang berubah dari diri kamu. Dari hal-hal yang kecil ini, kamu bisa ngelakuin hal yang lebih besar dan kamu suka tentunya, tanpa membebani diri kamu. Mungkin kalau kamu nggak bisa belajar coding kayak orang lain, ya jangan dipaksa. Kamu bisanya desain, ya udah belajar desain. Atau bisanya dan sukanya menulis, ya udah, menulislah. Dan kamu bukan komputer yang bisa ngelakuin semuanya juga, kan? Fokus dengan satu atau dua hal, fokus banget, dan kembangkanlah. The greatest thing comes not because we do all things together, but we do one thing seriously.

5. Nobody is perfect, so forgive yourself.

Tidak ada satu pun yang sempurna, jadi cobalah untuk menerima segala ketidaksempurnaan diri kita. Memaafkan mungkin bukan hal yang mudah, tapi dengan memaafkan, semua bisa jadi mudah. Memaafkan bukan melemahkan, tetapi justru menguatkan. Memaafkan diri berarti menerima dengan berani bahwa kita telah melakukan yang terbaik. Ia adalah sebuah bentuk apresiasi. Jadi, jangan pernah merasa lemah ketika memaafkan, jangan pernah merasa rendah. Mungkin kamu hanya belum (mau) percaya bahwa kamu hebat, bahwa kamu kuat. Karena siapa yang dengan tulus dapat menerima kekurangan diri kecuali diri kita sendiri?

Nggak ada satu pun orang yang mengerti diri kita. Nggak ada satu pun orang yang bertanggung jawab, apalagi menjamin kebahagiaan untuk diri kita. Kecuali siapa? Kecuali diri kita sendiri? Sulit memang untuk menanam pola pikir demikian, tapi mau sampai kapan kita terkungkung dengan berbagai limitasi yang justru membuat diri kita sendiri menderita? Bagaimana caranya kita bisa bahagia kalau kita nggak bisa percaya bahwa kita bisa bahagia?

So, guys, you're so amazing. Kita semua hanya perlu percaya itu, dan saling mendukung satu sama lain. Inget, kamu nggak pernah sendirian. Ada orang-orang yang juga sedang berjuang seperti kamu untuk punya mental yang sehat. 

Semangat, ya. Kamu pasti bisa :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Malam

Ada semburat rindu, yang ingin kuterbangkan. Menitipkan sedikit hembusan pelan pada angin yang berhembus lembut, pada ranting-ranting yang...