Minggu, 17 April 2022

Do You Have Goals? These are Some Steps to Make Your Goals Achievable 😎

Minggu ini lagi rame banget di medsos soal wishlist yang dibuat oleh seseorang (if you know, you know lah ya wkwk). Tapi, di Pena Azri kali ini, aku nggak bakal mengulik wishlist yang dia buat, sih, melainkan mau ngajak Sahabat Pena untuk menelaah, kira-kira wishlist yang kita buat selama ini tuh udah achievable belum, sih? Plus, selain menelaah, aku mau kasih beberapa tips untuk membuat daftar life goals yang realistik dan nggak bikin kita semua merasa tertekan, apalagi sampai getting stressed. Tulisan ini udah pasti nyambung sama tulisan-tulisan sebelumnya, terutama how to do a thing that you want and can do. Jadi, pembuatan wishlist itu sebaiknya adalah berkaitan dengan hal-hal yang kita suka dan kita bisa. At least we have prior and basic knowledge of things that we want to do and achieve. Gitu.

Oke, so.... how to make our goals achievable?

Mungkin ada sebagian besar yang udah tau metode SMART dan metode ini cukup membantu kita dalam membuat goals. Entah itu goals pribadi, goals yang bakal "dipertanggungjawabkan" untuk mendaftar beasiswa tertentu, goals untuk membangun komunitas, dan lain-lain. 

Apa sih metode SMART itu?


Sebelum kita lanjut untuk mengulik si SMART ini, aku punya sedikit contoh wishlist dan nanti kita coba bedah bareng-bareng ya (tapi aku menolak untuk membedah wishlist si WM karena tidak ingin ada kesalahpahaman hahaha). Jadi, ada yang punya wishlist kayak gini:
My goals in 5 years from now:

1. Being a lecturer
2. Studying abroad
3. Developing social community related to Mental Health Awareness
4. Having my own start-up
5. Being a wife

Udah dilihat-lihat ya goals di atas, sekarang kita coba bedah pakai metode SMART.

Pertama-tama, kalau kita mau membuat goals kita bisa dicapai, we have to make our goals specific. Maksudnya spesifik itu, bagaimana, sih? Well-defined, clear, and significant. Coba buat goals yang jelas dan nggak ambigu, serta signifikan. Kenapa harus begitu? Karena kalau goals kita itu jelas, kita pasti bisa fokus buat mencapai itu dan tentunya termotivasi dong? 

Nah, kalau dilihat dari contoh wishlist di atas, sebenarnya udah oke. Hanya saja, ada beberapa hal yang nggak spesifik. Misalnya, poin 1, dia mau jadi dosen. Iya, dosen apa? Dosen jurusan yang linearkah dengan jurusannya waktu S1 atau S2/S3? Yaaa, mungkin aja dia mau jadi dosen yang nggak linear dengan pendidikan S1-nya, tetapi linear dengan pendidikan S2/S3-nya. Terus, studying abroad. Mau studying abroad ke negara mana? Universitas mana? Mau ngejar beasiswa atau nggak? Ini perlu diperjelas lagi. Selanjutnya, having start-up. Itu start-up di bidang apa? Relate nggak sama permasalahan di masyarakat? Bisa menjawab masalah konsumen, nggak? Nah, belum jelas, kan? Berarti goals-nya belum spesifik.

Kedua, goals itu harus yang measurable. Artinya, with specific criteria that measure your progress toward the accomplishment of the goal. Kalau nggak ada kriterianya, ya goals itu bakal sulit untuk dicapai. Bukan nggak mungkin, lho, ya, tapi SULIT, apalagi kita udah menargetkan waktu sekian tahun buat mencapai itu. Balik ke contoh tadi, katakanlah dia udah nentuin mau jadi dosen Biologi dan sekarang dia udah lulus S1 dari jurusan Biologi. Nah, dia harus memperkirakan, kapan harus lanjut S2, berapa tahun harus lulus, kemudian kalau memang mau ambil kesempatan ke luar negeri, apa harus dengan beasiswa? Jika iya, beasiswa apa? Berapa lama persiapaannya? Harus jelas, agar waktu yang ditargetkan juga jelas.

Ketiga, buat goals yang attainable. Maksudnya, goals kamu tuh harus realistis biar mudah tercapainya. Coba kita balik lagi ke step sebelumnya, ya. Dia mau lanjut S2 ke luar negeri dengan beasiswa untuk mencapai goals-nya sebagai seorang dosen dalam 5 tahun ke depan. Katakanlah, untuk mempersiapkan beasiswa sampai dapat LoA (Letter of Acceptance) dari universitas luar negeri kurang lebih membutuhkan waktu minimal 1 tahun. Dan, rata-rata S2 di luar negeri membutuhkan waktu 2 tahun (walaupun di UK cuma butuh 1 tahun, tapi ambil kasarnya aja 2 tahun ya). Dari target waktunya, dia sudah menghabiskan waktu 3 tahun untuk berupaya memenuhi wishlist poin 1 dan poin 2. Artinya, dia hanya punya waktu 2 tahun lagi untuk benar-benar menjalankan goal-nya sebagai dosen dan sisa goals yang lain. Kalau dari perhitungan ini, kira-kira realistis nggak, sih, wishlist-nya? Ini bukan masalah ketinggian atau pesimis bahwa semua hal di dunia ini nggak ada yang nggak mungkin 😆 tapi how our goals achievable. Bisa dicapaikah dalam waktu 5 tahun semua poin itu? Kalau ternyata, untuk bikin start-up itu bisa dicapai setelah tahun ke-5, berarti goals-nya nggak achievable, kan? Mungkin, biar lebih realistis, coba dikurangi wishlist-nya. Untuk bangun sebuah start-up kayaknya butuh effort yang besar, belum lagi tetap mau jadi dosen. Baiknya, poin ke-4 itu dieliminasi aja :)

Keempat, are your goals relevant? Kira-kira goals yang kita buat itu udah relevan satu sama lain atau belum, sih? Untuk tahu apakah relevan atau nggak, coba buat question list, misalnya:

a. Is the goal realistic and within reach?
b. Does this seem worthwhile?
c. Is the goal reachable, given the time and resources?
d. Are you able to commit to achieving the goal?

Kalau jawabannya "yes", berarti goals-nya relevan. Kalau dilihat-lihat dari wishlist yang dibuat itu, dia pengen bergerak dalam bidang pendidikan, sekaligus punya kontribusi sosial dan menjadi seorang enterpreneur. Tapi, coba lihat poin kelima, deh. Kira-kira itu relevan nggak sih dengan empat poin lainnya? wkwkwk kayaknya kalau jadi istri, ini perlu dispesifikin juga, mungkin maksudnya mau belajar parenting and being a good wife kali ya 😅 Selain itu, perlu dipertimbangkan juga, apakah menjalankan komunitas sosial, sekaligus jadi enterpreneur itu mungkin? Kalau mungkin, berarti harus diperjelas berbagai kriteria yang lain.

Terakhir, your goals must be time-bound. Maksudnya, punya start and finish date yang jelas. Kapan mau dimulai? Berapa lama waktu untuk menjalankan itu? Kapan kira-kira harus sudah tercapai? Jika goals-nya nggak dibatasi waktu, nggak akan ada rasa urgensi dan, pasti kita jadi kurang motivasi untuk mencapai goals tersebut. Dalam waktu 5 tahun, kira-kira 5 poin wishlist itu bisa tercapai, nggak, ya? Kalau ternyata nggak bisa semua, mungkin bisa ditambah rentang waktunya, atau dieliminasi beberapa dan kasih rentang waktu yang baru.

Jadi, itu ya, guys, soal membuat wishlist kita achievable dengan metode SMART. Inget, ya. Hidup bukan perlombaan siapa yang goals-nya banyak, dia yang paling sukses. NO, IT'S NOT! Sukses nggak harus selalu dengan banyak dan besarnya impian yang kita punya. Bagaimana kita bisa fokus dan berkomitmen, itulah yang terpenting. Intinya, make your goals realistic and achievable. Mau sesulit apa pun, se-idealis apa pun goals yang kita punya, tapi kalau goals tersebut realistik dan jelas, nggak akan menjadi nggak mungkin untuk dicapai. Semangat!


Sumber:

https://www.mindtools.com/pages/article/smart-goals.htm

https://corporatefinanceinstitute.com/resources/knowledge/other/smart-goal/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Malam

Ada semburat rindu, yang ingin kuterbangkan. Menitipkan sedikit hembusan pelan pada angin yang berhembus lembut, pada ranting-ranting yang...